News

Menangani Permasalahan Sampah Sama Seperti “Mencari Penyebab Gatal”

DENPASAR, lintasbali.com – Permasalahan sampah di Bali kembali mencuat dan menjadi sorotan nasional, terutama ketika isu pantai kotor dibahas dalam berbagai forum, termasuk dalam Rakornas bersama Presiden Prabowo Subianto dan para kepala daerah pada Senin, 2 Pebruari 2026 di Sentul, Jakarta.

Kegusaran presiden terhadap persoalan sampah, menurut I Nyoman Astama, SE., MM., CHA selaku Konsul Kehormatan Ukraina di Bali sekaligus praktisi pariwisata lebih dari tiga dekade adalah sesuatu yang sangat bisa dipahami.
Namun, di balik kemarahan dan tuntutan solusi cepat, ada realitas lapangan yang jauh lebih kompleks.

Menurut Nyoman Astama, menangani sampah sama seperti “mencari penyebab gatal”. Membersihkan pantai ibarat menggaruk memberi rasa lega sementara, tetapi tidak menyentuh sumber masalahnya.

Fenomena Musiman yang Terulang

Pantai kotor di wilayah Bali Barat, khususnya pada periode November hingga Maret, bukanlah fenomena baru. Berdasarkan pengalaman pribadi Nyoman Astama yang lebih dari 30 tahun bekerja di hotel kawasan pantai Barat Bali, sampah kiriman selalu muncul pada puncak musim hujan dengan angin Barat. Namun, kejadian ini tidak berlangsung setiap hari dan bersifat musiman.

Ia mencontohkan pengalaman pahit di era 1990-an, ketika pihak hotel harus membersihkan lebih dari 40 truk sampah kayu secara mandiri, bahkan sampai kehilangan grup wisatawan seri dari Jerman akibat kondisi pantai yang tercemar. Artinya, persoalan ini sudah ada sejak lama, hanya bentuk dan volumenya yang berubah.

Dari Sampah Alam ke Sampah Plastik

Perubahan paling signifikan adalah jenis sampah. Dahulu, sampah yang terdampar di pantai didominasi kayu, ranting, dan buah kelapa akibat pohon tumbang. Kini, sampah plastik mendominasi. Hal ini diperparah oleh perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan serta belum optimalnya sistem pengelolaan sampah dari hulu ke hilir.

BACA JUGA:  Capek Bersihkan Rumah? Solusinya SPINMOP LUSTRO 3201 L! Dari MODENA

Saat hujan lebat, sampah dari daratan rendah, got, dan sungai mengalir ke laut. Jika saluran tersumbat, banjir pun terjadi. Sampah-sampah ini kemudian terbawa arus laut, terhempas kembali ke pantai, bahkan bisa berpindah antarwilayah dan antarpulau mengikuti siklus arus dan gelombang laut.

Nyoman Astama menegaskan bahwa tidak semua sampah yang terdampar di pantai Bali berasal dari Bali. Sebagian merupakan sampah kiriman dari daerah lain, ditambah lagi ulah oknum pelaut atau kapal laut yang membuang sampah langsung ke laut. Akumulasi inilah yang pada akhirnya menciptakan krisis visual dan ekologis di pantai-pantai Bali.

Bali Lebih Terlihat karena Pariwisata

Pantai kotor akibat musim hujan dan angin Barat sebenarnya juga terjadi di wilayah lain di Indonesia. Namun, karena Bali adalah destinasi pariwisata dunia, masalah kecil sekalipun mudah menjadi viral, terlebih dengan kekuatan media sosial saat ini.

Volume sampah juga meningkat drastis ketika terjadi bencana alam seperti banjir dan longsor. Peristiwa banjir di Sumatra Utara, Aceh, Padang, hingga Cisarua, menurutnya, hampir pasti berdampak pada meningkatnya sampah kiriman yang akhirnya terdampar di pantai Barat dan Selatan Jawa serta Bali.

Solusi Jangka Pendek: Menahan Sampah Sebelum ke Laut

Dalam jangka pendek, Nyoman Astama menilai beberapa langkah yang sudah dilakukan perlu terus dilanjutkan dan ditingkatkan hingga menjadi kebiasaan dan budaya.

Pertama, pemasangan jaring di sungai untuk menahan sampah agar tidak sampai ke laut. Sampah yang tertahan harus segera diangkat sehingga sungai tetap bersih dan berfungsi normal.

Kedua, di wilayah laut, pemerintah perlu memasang jaring-jaring raksasa saat musim hujan angin Barat dengan memanfaatkan teknologi seperti kapal ponton. Karena ini menyangkut sampah kiriman lintas daerah, penanganannya memerlukan peran aktif pemerintah pusat.

BACA JUGA:  Desa Adat Intaran Tutup Akses Menuju Pantai Mertasari hingga Pantai Segara Ayu

Ketiga, pembersihan rutin di kawasan pesisir harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan ditingkatkan baik dari sisi frekuensi maupun partisipasi. Namun ia menegaskan, semua ini tetap bersifat “menggaruk gatal” jika sumber masalahnya tidak dihilangkan.

Solusi Jangka Panjang: Meniadakan “Sumber Gatal”

Untuk pencegahan jangka panjang, Nyoman Astama menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh.
Penggundulan hutan di hulu harus dicegah karena berpotensi memicu banjir dan longsor di hilir. Pendidikan disiplin sejak usia dini juga menjadi kunci, terutama dalam membentuk pola hidup bersih dan kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan.

Selain itu, pemerintah harus menyiapkan sistem pengelolaan sampah modern dari hulu hingga hilir mulai dari pengumpulan, pengangkutan, hingga pengolahan dengan teknologi ramah lingkungan. Edukasi masyarakat perlu dibarengi dengan aturan yang jelas terkait jadwal pembuangan sampah serta sanksi tegas bagi pelanggar.

Ia juga menyambut baik rencana proyek nasional Waste to Energy di Bali yang didanai oleh Danantara, dengan ground breaking direncanakan pada Maret tahun ini dan target penyelesaian 2028. Proyek ini diharapkan menjadi salah satu solusi nyata dalam menghilangkan sumber masalah sampah, bukan sekadar membersihkan dampaknya.

Bagi I Nyoman Astama, persoalan sampah bukan sekadar urusan estetika pantai atau citra pariwisata. Ini adalah masalah sistemik yang menuntut konsistensi, kesadaran kolektif, dan keberanian untuk menyentuh akar persoalan. Selama kita hanya sibuk “menggaruk”, rasa gatal akan selalu kembali. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk benar-benar menemukan dan meniadakan sumbernya. (LB)

Post ADS 1