Pendidikan

Prof Tri Evi Triandini Sandang Guru Besar Pertama ITB STIKOM Bali

DENPASAR, lintasbali.com – Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali mencatat tonggak sejarah baru. Prof. Dr. Tri Evi Triandini, S.P., M.Eng., resmi dikukuhkan sebagai guru besar pertama ITB STIKOM Bali, Sabtu, 7 Pebruari 2026. Pengukuhan ini sekaligus menjadi momen “pecah telur” lahirnya profesor di lingkungan kampus tersebut.

Penetapan jabatan akademik tertinggi ini didasarkan pada Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) tentang kenaikan jabatan akademik fungsional dosen tertanggal 16 Desember 2025. Prof. Evi memiliki kepakaran di bidang analisis perangkat lunak dan teknologi informasi.

Rektor ITB STIKOM Bali, Dr. Dadang Hermawan, menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas capaian tersebut.

“Ini adalah momen bersejarah bagi ITB STIKOM Bali. Prof. Evi menjadi guru besar pertama di kampus kami. Kami sangat berbangga atas pencapaian jabatan fungsional tertinggi yang diraih,” ujar Dadang.

Ia juga menambahkan, berdasarkan pengamatannya, Prof. Evi merupakan profesor pertama di bidang teknologi informasi pada perguruan tinggi swasta (PTS) di Bali.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Evi Triandini memaparkan hasil riset yang berfokus pada pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas, khususnya melalui pengembangan alat prostetik berbasis telerehabilitasi.

Riset tersebut menawarkan kerangka telerehabilitasi prostetik yang berkesinambungan, dirancang dalam bentuk arsitektur modular yang terintegrasi dengan ekosistem digital.

“Kerangka ini bertujuan memberdayakan pasien melalui edukasi dan pemantauan mandiri, sehingga proses rehabilitasi tidak sepenuhnya bergantung pada kunjungan fisik yang sifatnya sporadis,” jelas Prof. Evi.

Ia juga mendorong para dosen bergelar doktor di ITB STIKOM Bali untuk terus meningkatkan kinerja akademik dan menargetkan pencapaian jabatan fungsional tertinggi sebagai profesor.

Ke depan, melalui keahliannya di bidang analisis perangkat lunak, Prof. Evi berencana mengembangkan risetnya lebih lanjut dari Denpasar. Saat ini, ia mengungkapkan telah menjalin kerja sama dengan salah satu rumah sakit di Thailand sebagai bagian dari upaya hilirisasi hasil penelitian.

BACA JUGA:  "Jejak Awal Hindu di Indonesia" Buku Karya Alm. Prof. Dr. IB Mantra

Dewan Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti (WDS), Prof. Dr. I Made Bandem, turut menegaskan komitmen kampus terhadap pendidikan inklusif. Menurutnya, sejak awal ITB STIKOM Bali telah membuka akses pendidikan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

“Sekarang tantangannya adalah bagaimana memanusiakan manusia. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Tugas perguruan tinggi adalah menghadirkan aksesibilitas agar semua mahasiswa, termasuk yang memiliki keterbatasan fisik, dapat belajar dengan setara,” ujarnya.

Prof. Dr. Tri Evi Triandini, S.P., M.Eng., lahir di Jember, Jawa Timur, pada 22 April 1970. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Suryono, bekerja di sektor perkebunan dengan mobilitas tinggi, sehingga sejak kecil Evi terbiasa berpindah tempat tinggal.

Pengalaman tersebut membentuk karakter tangguh, mandiri, dan adaptif. Nilai kedisiplinan, kerja keras, serta semangat belajar tertanam kuat sejak dini.

Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh di Surabaya. Perpindahan sekolah tidak menjadi hambatan, melainkan proses pembelajaran yang membentuk ketekunan dan daya juang.

Pendidikan sarjana (S1) diselesaikan di Program Studi Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, dengan masa studi 3,5 tahun dan predikat cum laude. Selama kuliah, ia aktif dalam organisasi, forum ilmiah, kegiatan kemanusiaan, serta menjadi asisten dosen.

Gelar magister (S2) diraih dari Asian Institute of Technology (AIT), Bangkok, Thailand, pada bidang Information Management. Pengalaman di lingkungan internasional memperluas wawasan dan jejaring globalnya.

Sementara itu, gelar doktor (S3) diperoleh dari Program Ilmu Komputer, Fakultas Informatika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dengan fokus pada integrasi ilmu komputer, sistem informasi, dan inovasi teknologi.

Karier akademik Prof. Evi dimulai pada 1993 sebagai dosen di STIKOM Surabaya. Sejak 2003 hingga kini, ia mengabdikan diri di ITB STIKOM Bali dengan berbagai amanah strategis, mulai dari dosen, pimpinan pusat pengembangan, hingga Direktur Kerja Sama dan Pengembangan Institusi.

BACA JUGA:  Soal Bandara Bali Utara, Wayan Koster: Bangun Infrastruktur Penghubung Lebih Dulu

Di tingkat internasional, ia aktif membangun kolaborasi akademik dengan perguruan tinggi di Thailand dan Filipina sebagai visiting professor, penguji disertasi, serta mitra riset. Ia juga terlibat dalam pendampingan tesis dan disertasi, workshop penulisan ilmiah, serta pengembangan inovasi pembelajaran, khususnya di bidang digitalisasi layanan kesehatan.

Bagi Prof. Evi Triandini, ilmu pengetahuan harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui keterlibatan aktif dalam pembangunan ekosistem layanan disabilitas berbasis kolaborasi lintas institusi, pemerintah, akademisi, dan masyarakat.

“Menjadi profesor bukanlah akhir perjalanan, melainkan amanah untuk terus berbagi ilmu, membimbing generasi muda, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat. Ilmu akan terus hidup selama ia dibagikan,” tuturnya. (LB)

Post ADS 1