TABANAN, lintasbali.com — Sosok Kartini masa kini tak selalu identik dengan ruang kantor atau dunia profesional perkotaan. Di Bali, semangat emansipasi justru tumbuh di tengah hamparan sawah.
Generasi muda, khususnya perempuan, mulai menunjukkan bahwa bertani bukan lagi pekerjaan yang dipandang sebelah mata, melainkan pilihan hidup yang menjanjikan dan relevan dengan perkembangan zaman.
Hal tersebut tergambar dari kisah Ni Putu Meilanie Ary Sandi (23), seorang petani muda yang memilih melanjutkan jejak sang ayah. Meski awalnya hanya sekadar mencoba, Meilanie kini justru menemukan potensi besar sekaligus kepuasan dalam dunia pertanian.
“Awalnya saya tidak menyangka bisa sampai di titik ini. Dulu lebih fokus sekolah dan sempat hidup nomaden di Badung. Tapi sejak pandemi, kami kembali ke rumah dan mulai serius turun ke lahan. Dari situ saya melihat bahwa bertani itu ternyata seru,” ujarnya.
Menurut Meilanie, bertani saat ini tidak lagi identik dengan cara konvensional yang berat dan kotor. Berbagai inovasi sederhana telah diterapkan, seperti penggunaan mulsa dari jerami atau sekam padi, hingga racikan pupuk organik buatan sendiri. Cara ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga menjaga kualitas tanaman.
“Bapak juga punya formula pupuk sendiri yang disemprot halus seperti embun untuk menjaga kondisi tanaman. Jadi kami bisa lebih efisien tanpa harus bergantung penuh pada pupuk pabrikan,” jelasnya.
Tak hanya fokus pada produksi, Meilanie juga aktif memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pemasaran hasil panen. Ia mengandalkan media sosial untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk hotel dan restoran di sektor pariwisata.
“Sekarang komunikasi lebih banyak lewat media sosial. Kami juga menyuplai ke hotel dan restoran karena sudah ada relasi yang percaya. Jadi peluangnya sebenarnya sangat terbuka,” katanya.
Di sisi lain, Meilanie menilai minat anak muda terhadap dunia pertanian masih sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman. Banyak yang belum merasakan langsung proses di lapangan, sehingga menganggap pertanian kurang menarik.
Padahal, menurutnya, bertani bisa dimulai dari skala kecil, bahkan di lingkungan perkotaan melalui metode urban farming seperti hidroponik atau penanaman menggunakan polybag.
“Kalau sudah merasakan sendiri prosesnya, pasti akan tahu bahwa bertani itu menyenangkan. Tinggal bagaimana kesadaran masing-masing, apalagi sekarang isu krisis pangan juga mulai terasa,” ujarnya.
Sebagai perempuan muda, Meilanie mengajak generasi sebayanya untuk tidak ragu terjun ke dunia pertanian. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki peran penting, baik dalam pengelolaan rumah tangga maupun dalam menjaga ketahanan pangan.
“Kita sebagai perempuan harus punya dasar pengetahuan itu. Bertani sekarang tidak harus kotor, sudah banyak teknologi yang bisa membantu. Jadi jangan takut jadi petani,” tegasnya.
Dalam mengembangkan usahanya, Meilanie juga merasakan pentingnya dukungan sektor perbankan. Ia mengaku terbantu dengan layanan keuangan digital, salah satunya melalui aplikasi BRImo yang memudahkan transaksi dan pengelolaan keuangan.
“Sekarang saya pakai BRImo. Simpel dan fiturnya lengkap, jadi sangat membantu untuk kebutuhan operasional,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan perbankan dapat terus memberikan dukungan bagi petani, terutama dalam hal permodalan dan kemudahan akses layanan keuangan.
Dengan kolaborasi antara generasi muda, teknologi, dan dukungan finansial, sektor pertanian diyakini mampu menjadi tulang punggung ekonomi sekaligus ruang aktualisasi bagi Kartini masa kini.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menyampaikan bahwa kehadiran BRImo merupakan salah satu bentuk nyata dukungan BRI dalam mendorong inklusi keuangan sekaligus memperkuat peran perempuan di sektor pertanian.
“Kartini masa kini tidak hanya berperan dalam lingkup domestik, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi, termasuk di sektor pertanian. Melalui BRImo, kami ingin memberikan kemudahan akses layanan keuangan yang dapat membantu petani masa kini dalam mengembangkan usaha secara lebih modern dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, perempuan khususnya Kartini muda di sektor pertanian memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional serta pertumbuhan ekonomi kerakyatan di daerah.
Oleh karena itu, BRI akan terus menghadirkan inovasi layanan dan program pemberdayaan untuk mendorong perempuan Indonesia semakin berdaya, mandiri, dan mampu bersaing di era digital. (Rls)





