JAKARTA, lintasbali.com – Dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) menegaskan pentingnya peran media siber dalam mempercepat kemajuan pendidikan nasional. Transformasi digital yang kian meluas menuntut sinergi antara ekosistem pendidikan dan media untuk membentuk sumber daya manusia (SDM) yang adaptif dan berdaya saing global.
Ketua Umum JMSI, Teguh Santosa, menyampaikan bahwa pendidikan saat ini tidak lagi terbatas pada ruang kelas, melainkan telah meluas ke ruang digital yang diakses jutaan masyarakat setiap hari.
“Pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas. Saat ini, media siber dapat disebut sebagai ruang belajar kedua yang menjangkau jutaan anak bangsa,” ujar Teguh, yang juga merupakan dosen di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Menurutnya, kecepatan diseminasi informasi melalui portal berita, platform digital, dan berbagai kanal edukasi daring membuka peluang besar dalam pemerataan akses pengetahuan. Hal ini dinilai mampu menjadi solusi atas kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah di Indonesia.
Namun demikian, Teguh menekankan bahwa besarnya pengaruh media siber juga diiringi tanggung jawab yang tidak ringan.
“Media siber tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga harus mampu mengkurasi konten yang mendidik, mencerdaskan, dan membangun karakter bangsa,” tegas mantan Wakil Rektor Universitas Bung Karno tersebut.
Ia menambahkan, jurnalisme yang berpihak pada literasi merupakan kontribusi nyata pers dalam meningkatkan kualitas SDM Indonesia, terutama di tengah tantangan era kecerdasan buatan dan otomatisasi yang terus berkembang.
“Tantangan ke depan semakin kompleks. Tanpa SDM yang adaptif, melek teknologi, dan memiliki nalar kritis, kita berisiko tertinggal. Di sinilah media siber harus hadir sebagai katalis perubahan,” lanjutnya.
Sebagai langkah konkret, JMSI mendorong seluruh anggotanya untuk memperbanyak konten edukatif yang relevan bagi siswa, guru, dan orang tua. Konten tersebut mencakup ulasan kurikulum, praktik baik pembelajaran, literasi digital, hingga penguatan nilai-nilai kewargaan.
“Media siber tidak boleh hanya dipenuhi sensasi. Kita membutuhkan lebih banyak narasi yang mengangkat guru inspiratif, inovasi sekolah, serta prestasi pelajar dari berbagai daerah,” ujar Teguh.
Lebih lanjut, JMSI juga mengajak kolaborasi multipihak antara media siber, pemerintah termasuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi serta sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas belajar. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan ruang diskusi publik yang konstruktif dan berbasis data.
“Hardiknas 2026 harus menjadi momentum untuk menegaskan kembali peran pers dalam dunia pendidikan. Media siber bukan sekadar penyampai informasi, melainkan mitra strategis dalam pembangunan manusia Indonesia,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Teguh mengingatkan bahwa kualitas SDM merupakan faktor penentu dalam menghadapi persaingan global. Oleh karena itu, peringatan Hari Pendidikan Nasional diharapkan menjadi pengingat bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tanggung jawab bersama, termasuk bagi insan media siber. (Rls)





