News

KMHDI Denpasar Soroti Komersialisasi Ritual Keagamaan: Jangan Sampai Umat Hindu Menjadi Konsumen Budayanya Sendiri

DENPASAR, lintasbali.com — Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC KMHDI) Denpasar menggelar Lomba Pembuatan Pejati di Inna Bali Heritage Hotel, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi wadah untuk melestarikan keterampilan tradisional, tetapi juga momentum untuk merefleksikan keberlanjutan budaya dan praktik keagamaan Hindu di tengah arus globalisasi serta kecenderungan kehidupan masyarakat yang semakin berorientasi pada aspek material.

Ketua PC KMHDI Denpasar, I Gede Panca Kusuma Ramadi, menilai bahwa tantangan pelestarian budaya Hindu saat ini bukan hanya berkaitan dengan ancaman hilangnya tradisi, melainkan juga pergeseran pemahaman terhadap nilai-nilai filosofis dan spiritual yang mendasari pelaksanaannya.

“Di tengah arus globalisasi dan kehidupan yang semakin berorientasi pada materi, kita perlu mempertanyakan kembali bagaimana masyarakat memaknai kebudayaan dan praktik keagamaannya. Jangan sampai umat Hindu begitu sibuk memenuhi kebutuhan sarana upacara, tetapi perlahan kehilangan pemahaman terhadap nilai spiritual yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Menurut Panca, perkembangan ekonomi dan kemudahan dalam memperoleh sarana upacara bukanlah sesuatu yang harus ditolak.

Aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar kebutuhan keagamaan bahkan dapat menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekaligus bagian dari ekosistem kebudayaan Bali.

Namun, persoalan muncul ketika kemudahan tersebut tidak diimbangi dengan upaya menjaga pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman filosofis agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kita tentu tidak sedang menolak masyarakat yang menggantungkan penghidupannya dari pembuatan sarana upacara. Mereka juga bagian dari ekosistem kebudayaan Bali. Namun, kita perlu mengkritisi keadaan ketika generasi muda semakin terbiasa membeli sarana ritual tanpa mendapatkan kesempatan untuk memahami proses pembuatan, makna, dan nilai yang terkandung di dalamnya. Jangan sampai kita tumbuh menjadi generasi yang hanya mampu mengonsumsi kebudayaannya sendiri, tetapi kehilangan kemampuan untuk mewariskannya,” tegasnya.

Panca juga mengaitkan persoalan tersebut dengan refleksi mengenai zaman Kali Yuga dalam pandangan Hindu.

Menurutnya, kecenderungan mengejar kepentingan material perlu diimbangi dengan penguatan kesadaran spiritual, tanggung jawab sosial, dan pengendalian diri.

Dalam konteks pelaksanaan ritual keagamaan, refleksi tersebut menjadi penting agar aspek material tidak menggeser esensi pengabdian dan ketulusan dalam beryadnya.

“Jika kita merefleksikan karakteristik Kali Yuga, salah satu tantangan yang patut direnungkan adalah kecenderungan manusia menempatkan kepentingan material di atas nilai-nilai kehidupan. Dalam konteks kebudayaan Bali, kita harus berhati-hati agar ukuran kemegahan dan besarnya pengeluaran tidak menggeser pemahaman tentang ketulusan, pengabdian, dan esensi yadnya,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa keberlanjutan kebudayaan tidak cukup diukur dari seberapa sering upacara keagamaan dilaksanakan atau seberapa megah sarana ritual yang digunakan.

Pelestarian budaya harus mencakup keberlanjutan pengetahuan, pemahaman filosofis, serta keterlibatan aktif generasi muda dalam mempelajari dan menjalankan tradisi.

“Budaya tidak cukup hanya dipertontonkan, dirayakan, atau dijadikan identitas kebanggaan. Budaya harus dipahami, dipelajari, dan diwariskan. Kalau generasi muda hanya mengenal bentuk luarnya, sementara pengetahuan di baliknya semakin ditinggalkan, kita patut mempertanyakan sejauh mana pelestarian itu benar-benar berlangsung,” katanya.

Melalui Lomba Pembuatan Pejati, PC KMHDI Denpasar berupaya menghadirkan ruang pembelajaran yang mendorong peserta untuk tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga pengetahuan tradisional dan nilai spiritual dalam kehidupan beragama.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat keterlibatan generasi muda dalam proses pewarisan budaya, sehingga tradisi tidak berhenti pada pelaksanaan ritual, tetapi tetap hidup melalui pemahaman dan praktik sehari-hari.

Panca berharap kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan generasi muda Hindu perlu mengambil peran dalam memastikan bahwa pengetahuan serta nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tetap diwariskan secara berkelanjutan.

“Kita tidak ingin generasi mendatang hanya mewarisi kewajiban melaksanakan ritual, tetapi tidak mewarisi pengetahuan untuk memahami ritual tersebut. Sebab, kebudayaan yang kehilangan proses pewarisan pengetahuan berisiko menjadi sekadar rutinitas, bukan lagi ruang pembentukan kesadaran spiritual dan identitas masyarakat,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, PC KMHDI Denpasar mengajak masyarakat untuk kembali menempatkan pemahaman, ketulusan, dan pewarisan pengetahuan sebagai bagian penting dari pelestarian budaya Hindu.

Tantangannya bukan semata-mata mempertahankan keberadaan tradisi, melainkan memastikan bahwa generasi penerus tetap memahami makna, menguasai keterampilan, dan memiliki kesadaran untuk menjaga warisan budaya yang mereka miliki. (Rls)

Post ADS 1