DENPASAR, lintasbali.com — Ajang The 11th Bali Tourism Award (BTA) 2026 tidak hanya menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada para pelaku industri pariwisata, tetapi juga menegaskan pentingnya akselerasi pemerataan pembangunan kepariwisataan di seluruh wilayah Bali, khususnya di luar kawasan Bali Selatan.
Tokoh pariwisata Bali sekaligus Board of Advisor Bali Tourism Award 2026, Ketut Swabawa, ST., S.Bns., CHA, mengatakan Bali masih memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan serta potensi destinasi yang belum digarap secara optimal. Karena itu, menurutnya, diperlukan road map pembangunan pariwisata yang lebih tegas dan terarah.
Hal tersebut disampaikan Ketut Swabawa saat ditemui Lintas Bali di sela-sela penyelenggaraan The 11th Bali Tourism Award 2026 di The Meru Sanur, Bali, Senin (14/9/2026).
“Bali masih diminati dan masih banyak potensi yang belum digarap dengan optimal. Hal ini membutuhkan adanya road map yang tegas,” ujar Swabawa.
Ia mencontohkan program strategis integrasi destinasi 3B (Bali-Banyuwangi-Bromo) yang pernah digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada masa pandemi. Menurutnya, program tersebut perlu kembali didorong agar memberikan dampak nyata terhadap pemerataan arus wisatawan.
“Jika serius menciptakan pemerataan destinasi di Bali, program 3B itu bisa menjadi salah satu opsi untuk memecah crowd turis di Bali Selatan. Konektivitas bisa melalui Bandara Banyuwangi sehingga bisa mempercepat akses menuju destinasi Bali Barat dan dapat mengurangi kemacetan lalu lintas dari Denpasar menuju destinasi Bali Utara,” kata Swabawa.
Program promosi wisata 3B sebelumnya diluncurkan oleh Sandiaga Uno saat menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Ketika itu, Pemerintah Kabupaten Buleleng juga menyambut positif pengembangan konektivitas tersebut dengan mengoptimalkan berbagai potensi wisata, termasuk desa wisata unggulan serta pelabuhan atau dermaga kapal pesiar di Celukan Bawang.
BTA 2026 Soroti Potensi Destinasi di Luar Bali Selatan
Pesan mengenai pentingnya pemerataan destinasi juga tercermin dari daftar penerima penghargaan BTA 2026. Para pemenang tidak hanya berasal dari kawasan yang selama ini menjadi pusat aktivitas pariwisata Bali seperti Nusa Dua, Sanur dan Kuta, tetapi juga dari sejumlah destinasi di luar Bali Selatan, antara lain Nusa Penida, Lovina dan Candi Dasa.
Swabawa menilai keberagaman penerima penghargaan tersebut menunjukkan semakin luasnya perhatian terhadap pelaku industri pariwisata di berbagai wilayah Bali.
“Perhelatan ke-11 BTA ini membawa pesan besar bahwa pembangunan kepariwisataan di luar Bali Selatan butuh akselerasi nyata. Para peraih award di luar kawasan Bali Selatan menunjukkan komitmen BTA dan ITTA Foundation mengapresiasi pelaku wisata di remote area destination. Bali harus dibangun secara inklusif dan kolaboratif untuk keberlanjutannya,” ujarnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, penerima penghargaan juga semakin beragam, baik dari sisi lokasi destinasi maupun jenis aktivitas pariwisata yang dikembangkan.
Khusus kategori hotel dan resort, sejumlah penerima penghargaan berasal dari kawasan di luar Bali Selatan, di antaranya Blue Harbour Nusa Penida sebagai Bali Leading Beach Resort in Island, Lovina Beach Club & Resort sebagai Bali Leading Family Beach Resort, serta Candi Beach Candi Dasa sebagai Bali Leading Seaside Resort.
Keberadaan para pemenang dari berbagai kawasan tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus memperkuat daya saing destinasi alternatif di Bali.
BTA 2026 Usung Tiga Pilar Pariwisata
President Indonesia Tourism & Travel Award (ITTA) Foundation, Panca Rudolf Sarungu, menjelaskan bahwa BTA 2026 mengusung tema “Eleven Years Excellence, Inspiring the Future” dengan tiga pilar utama, yaitu Sustainability, Connectivity, dan Ecosystem.
Menurut Panca, ketiga pilar tersebut menjadi landasan dalam mendorong pembangunan pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan dan kolaborasi antarpemangku kepentingan.
“Konsep keberlanjutan adalah komitmen kami, menjembatani seluruh stakeholder membentuk ekosistem kuat demi pariwisata Bali. Bali adalah pintu masuk utama Indonesia, berkontribusi 50 persen lebih untuk capaian kunjungan wisatawan mancanegara,” ujar Panca Sarungu.
Ia menambahkan, keberadaan BTA diharapkan tidak sekadar menjadi ajang penghargaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata yang semakin kuat dan berkelanjutan.
Penilaian BTA Kedepankan Objektivitas
Sementara itu, Dr. Dewi Tamara, perwakilan BINUS University selaku research partner BTA dan ITTA Foundation, mengatakan proses penilaian penghargaan tetap mengedepankan aspek objektivitas dan profesionalisme.
“BTA merupakan ajang berkontribusi dan membangun bangsa melalui kepariwisataan. Hal ini sejalan dengan visi misi kami untuk membangun bangsa. Proses desk assessment dan online research tetap mengedepankan aspek objektivitas dan profesionalisme,” kata Dewi.
Penyelenggaraan BTA 2026 turut dihadiri sejumlah undangan VVIP, antara lain utusan khusus Kementerian Agama dan Kementerian Kebudayaan RI, Kepala Dinas Pariwisata Daerah Bali, Wakil Wali Kota Denpasar, Ketua GIPI/Bali Tourism Board (BTB), serta para pimpinan asosiasi pariwisata di Bali.
Secara keseluruhan, sebanyak 39 penghargaan diserahkan dalam BTA 2026. Penghargaan tersebut mencakup berbagai kategori dalam industri pariwisata, lembaga pendidikan pariwisata, tokoh adat, budayawan, hingga pemerintahan.
Melalui penyelenggaraan tahun ke-11 ini, Bali Tourism Award kembali menegaskan perannya sebagai salah satu wadah apresiasi sekaligus refleksi bagi perkembangan industri pariwisata Bali. Pesan yang mengemuka adalah perlunya pembangunan pariwisata yang semakin inklusif, terkoneksi, berkelanjutan, dan tidak terpusat hanya di kawasan Bali Selatan. (Rls)





