Business News

Bank Indonesia Dorong Transformasi Ekonomi Bali-Nusra Menuju Pertanian 4.0

DENPASAR, lintasbali.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali menyelenggarakan Webinar Transformasi Ekonomi Balinustra dengan tema “Balinusra Menuju Pertanian 4.0”, Selasa, 14 September 2021.

BACA JUGA:  Dandim 1015 Sampit Puji Anggotanya Yang Cepat Mengerjakan Program TMMD

Kegiatan dihadiri oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Gubernur/Wakil Gubernur se-Balinustra, Deputi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), serta stakeholder eksternal di Bali seperti akademisi, organisasi perangkat daerah, perbankan, pelaku usaha dan lembaga vertikal.

Trisno Nugroho, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali

Mengawali sambutannya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho menyampaikan kondisi perekonomian Bali mulai menunjukkan tanda pemulihan yang tercermin dari pertumbuhan triwulan II 2021 sebesar 3,70% (yoy). Momentum pemulihan ini perlu dijaga dan didorong dengan menggali potensi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi.

BACA JUGA:  Transformasi PLN, Siap Kembangkan Liquefied Natural Gas di Bali

Selaras dengan hal tersebut, dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) 2021, Presiden RI juga menyampaikan bahwa sektor pertanian menjadi sumber pertumbuhan dalam menopang kebangkitan ekonomi pasca pandemi COVID-19.

Rosmaya Hadi, Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia

Sejumlah tantangan masih menghadang pengembangan sektor pertanian ke depan. Pertama, teknologi produksi masih rendah dengan kapasitas SDM yang terbatas. Kedua, peran kelembagaan kelompok tani juga masih belum optimal baik dari sisi hulu seperti pengawasan praktek bertani yang baik (Good Agriculture Practices) maupun dari sisi hulu seperti implementasi korporatisasi petani untuk mencapai skala ekonomi, mendapat pembiayaan, dan pasar yang lebih pasti. Ketiga, tantangan terkait kerja sama perdagangan luar negeri (ekspor) yang mencakup hambatan non tarif maupun hambatan tarif yang dikenakan oleh negara pasar.

BACA JUGA:  DPP BARA JP Ajak Masyarakat Bersatu Membangun Negeri

Terkait tantangan-tangan diatas, terutama terkait peningkatan produktivitas dan nilai tambah, maka diperlukan transformasi pertanian ke arah digitalisasi pertanian (pertanian 4.0).

Penerapan digitalisasi pertanian di sisi hulu diharapkan akan mengubah cara bertani, perilaku petani, hingga cara penyediaan input. Kemudian, digitalisasi sisi hilir akan memperluas cakupan pasar, efisiensi harga, hingga cara penjualan produk.

BACA JUGA:  IB. Sedana : 18 Tahun Bom Bali, Bangkit dan Berjuang Bersama

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi menjelaskan bahwa Bank Indonesia sangat mendukung dan menaruh perhatian pada kebijakan dan program digitalisasi di sektor pertanian.

Hal ini tidak semata untuk mendukung transformasi struktur ekonomi daerah yang semakin berkinerja dan resilien, tetapi juga dalam rangka mendukung program stabilitas inflasi dan inklusi keuangan. Bank Indonesia berupaya memberikan dukungan pada digitalisasi pertanian secara end-to-end.

BACA JUGA:  Dalam Dua Hari, Kasus Positif di Denpasar Capai 70 Orang

Di Hulu, Bank Indonesia memfasilitasi penggunaan IoT (internet of thing) untuk mendukung good agriculture practices. Sementara di hilir, Bank Indonesia fokus dalam memfasilitasi on-boarding UMKM binaan dengan pemanfaatan teknologi digital.

Arifin Rudyanto selaku Deputi Bidang Kemaritiman dan SDA Kementerian PPN/Bappenas menjelaskan bahwa faktor produktifitas tenaga kerja akan menjadi kunci pertumbuhan sektor pertanian. Tantangan ke depan ialah meningkatkan literasi teknologi kepada petani muda sehingga digitalisasi pertanian 4.0 dapat terwujud.

BACA JUGA:  Pengalaman Indah Bersama Keluarga Asuh Tidak Pernah Terlupakan

Di samping itu, upaya untuk menjadikan Balinusra sebagai salah satu lumbung pangan nasional dapat ditempuh melalui pengembangan pertanian dari hulu ke hilir, serta pengembangan pertanian berbasis korporasi.

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menggambarkan tantangan dalam mengembangkan pertanian terutama pada sisi produktivitas, misalnya jumlah produksi Padi dan luas lahan panen padi mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA:  Sambut Kemerdekaan RI, ITDC Berbagi Kasih dengan Veteran

Beberapa penyebab penurunan diantaranya disebabkan oleh regenerasi sumber daya pertanian yang lambat (mayoritas petani sudah berumur di atas 45 tahun), tingkat kesejahteraan petani yang rendah dan pemanfaatan teknologi yang juga masih rendah.

Strategi pertanian provinsi Bali ke depan adalah dengan mengintegrasikan sektor pertanian dengan sektor industri untuk meningkatkan value added sektor pertanian sehingga lebih bernilai tinggi.

BACA JUGA:  Semarak IFBEC Gathering di Aston Canggu

Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Laiskodat memaparkan bahwa lahan kering di NTT masih sangat luas sehingga potensi untuk bisa digarap masih sangat besar.

Namun untuk memroses lahan tersebut dibutuhkan pula alat berat sebagai pendukung, sehingga salah satu permasalahan utama adalah pendanaan terhadap badan usaha milik daerah.

BACA JUGA:  Transformasi PLN, Siap Kembangkan Liquefied Natural Gas di Bali

Harapan kedepannya, perbankan maupun lembaga non-bank dapat memberikan bantuan kredit yang rendah akan risiko ke sektor pertanian di NTT.

Gubernur Nusa Tenggara Barat, Zulkieflimansyah menjelaskan bahwa kondisi pertanian yang ada di NTB sudah relatif baik atas dukungan dari pemerintah setempat dan Bank Indonesia dalam mengembangkan program Mahadesa dan NTB Mall.

BACA JUGA:  Semarak IFBEC Gathering di Aston Canggu

Dengan adanya program tersebut, UMKM dapat sangat terbantu dari segi produksi hingga pemasaran, sehingga pertanian di NTB relative lebih stabil dan minim akan permasalahan, harapan kedepannya pemerintah maupun Bank Indonesia dapat lebih focus untuk mengembangkan program Mahadesa dan NTB Mall yang sudah ada.

Profesor M. Firdaus selaku guru besar IPB, menambahkan bahwa kedepannya pertanian akan memberikan harapan baru bagi perekonomian Balinusra, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Revolusi pertanian 4.0 akan menjawab tantangan mengenai produktivitas dan harga. Hal terpenting adalah penerapan skema inclusive closed-loop untuk korporatisasi badan usaha pertanian mikro. (Rls)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: STOP!! Silahkan kontak redaksi Lintasbali.com untuk keperluan penggunaan berita!