BISA (Bincang Santai) : Cerita Ubud Hari Ini dan Harapan Masa Depan

Share

Gianyar, Lintasbali.com – Pandemi Covid-19 tentu tidak saja bersentuhan dengan isu-isu di bidang kesehatan, namun berkaitan juga pada sektor lain yaitu; ekonomi dan kepariwisataan.

Khusus bagi Ubud sebagai sebuah kawasan pariwisata, semenjak 4 bulan terakhir menunjukkan geliat yang mengarah pada ketidakpastian. Hampir 90% masyarakat di Ubud menggantungkan hidupnya pada Sektor Pariwisata, baik itu sebagai
pedagang pasar seni, pemilik dan pengelola homestay, seniman dan pengelola sanggar, serta penyedia jasa. transportasi.

Ubud Royal Weekend sebagai sebuah wahana edukasi yang mengedepankan tiga aspek, yaitu: Tourism, Culture, dan Entrepreneurship meluncurkan sesi Baru yang dinamai BISA (Bincang Santai) setelah beberapa bulan sebelumnya juga eksis dengan acara Reguler bertajuk “Rembug Sastra” dan “Redite Masatua”.

Format BISA dibuat dengan tampilan diskusi yang lebih santai dan kekeluargaan ketimbang Rembug
Sastra dan seminar lainnya. Adapun isu-isu yang rencana akan dikedepankan oleh BISA adalah seputaran pariwisata, kuliner, fashion & lifestyle, serta kewirausahaan.

Chairman Ubud Royal Weekend, Tjokorda Gde Agung Ichiro Sukawati berharap ditengah kondisi Ubud yang kurang menggairahkan ini, kehadiran BISA yang rencananya akan dilaksanakan reguler ini semoga menjadi sebuah ruang berekspresi dan saling menginspirasi antar sesama masyarakat di Ubud khusunya dan Bali pada umumnya dalam upaya menuju sebuah optimisme menatap era baru baru yang lebih baik.

BISA pertama dilaksanakan pada hari Sabtu (1/8) bertempat di Musuem Puri Lukisan Ubud dengan mengangkat topik tentang “Cerita Ubud Hari Ini dan Harapan Masa Depan”.

Diskusi santai tersebut menghadirkan tiga pembiacara, yaitu Tjokorda Bagus Astika (Ketua Sanggar Tedung Agung dan Direktur Museum Puri Lukisan), Ida Bagus Wiryawan (Ketua Ubud Homestay Association), Gusti Ngurah Willy Suastika  (Sekretaris Paguyuban Transport Bale Agung Ubud) dan bertindak sebagai moderator yaitu I Gede Paskara Karilo (Ketua Ubud Hotels Association).

BACA JUGA:  K. Swabawa, CHA : Jangan Rubah Tampilan Hotel Jadi Rumah Sakit

Acara diskusi berlangsung sangat interaktif dengan penuh suasana keakraban terlebih konsep acara
dibuat lesehan di hamparan rumput hijau Museum Puri Lukisan Ubud. Sebagai pengelola sanggar, Tjokorda Bagus Astika mengutarakan bahwa kedepan akan mencoba secara perlahan memulai kembali seni pertunjukan di Puri Agung Ubud namun dengan protokol kesehatan yang ketat.

Selain itu, pihaknya menunggu item-item self assement yang diatur nantinya oleh Pemerintah sebagai prasayat menggelar pertunjukan seni, walau dirinya masih merasa kurang berkenan jika kedepan penari yang sudah elok mepayas, harus menggunakan masker dan jarak antar penabuh harus saling berjauhan. Tentu perlu sebuah waktu adaptasi bersama terlebih sangat bersentuhan dengan keberlanjutan kebudayaan Bali kedepannya.

Tak lupa juga pihaknya menjelaskan bahwa per tanggal 1 Agustus 2020, Musuem Puri Lukisan Ubud telah dibuka dan telah mendapatkan sertifikasi tatanan kehidupan baru dari Pemerintah.

Ida Bagus Wiryawan mengutarakan homestay sebagai sebuah akomodasi pariwisata yang bertumpu pada kearifan lokal Bali memiliki sebuah kekuatan menatap masa depan. Terlebih dalam konsep physical distancing, rumah adat Bali sudah terbukti secara local genius memang tidak saling berdekatan.

Lebih lanjut, pihaknya memastikan bahwa homestay sebagai cikal bakal pariwisata di Ubud akan berpeluang menyajikan kebudayaan Bali yang sesungguhnya dikarenakan bersentuhan langsung dengan aktivitas dan kegiatan berkehidupan masyarakat Bali yang dijalankan setiap harinya di Rumah Adat.

Melalui kesempatan yang baik ini pula dihimbaubagi para members dan non members untuk segera mengurus Sertifikasi Tatanan Kehidupan Era Baru yang dikelurakan oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar sebagai sebuah bentuk keseriusan menerapkan protokol kesehatan bagi wisatawan yang menginap nantinya.

Bincang Santai yang pertama ini cukup menarik pula karena menghadirkan pelaku jasa transportasi yang bernaung dalam wadah Paguyuban Berbasis Desa Adat di Ubud.

BACA JUGA:  Jumpa Tokoh Bersama I Made Rentin, Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bali

Walaupun kondisi pariwisata selama pandemi Covid-19 di Ubud sangat berdampak sekali bagi kelangsungan hidup para driver, namun Gusti Ngurah Willy mengutarakan bahwa pihaknya sangat optimis menatap era baru dengan berbagai persiapan, salah satunya dengan mempersiapkan protokol kesehatan di mobil serta mengagendakan para drivers untuk berbusana adat Bali yang baik dan benar jika sedang melayani wisatawan dalam perjalanan wisatanya.

Menuju sebuah ketidakpastian kedepan, pihaknya juga akan berupaya untuk mendalami syarat dan ketentuan Sertifikasi tatanan kehidupan era baru bagi usaha transportasi pariwisata agar lebih meyakinkan para wisatawan menikmati layanan yang diberikan. (Red/Rls)

error: STOP!! Silahkan kontak redaksi Lintasbali.com untuk keperluan penggunaan berita!