Featured

Chef Bayu Kristiawan: Menjadi Chef Bukan Sekadar Hebat Memasak

DENPASAR, lintasbali.com – Dalam dunia kuliner profesional, keahlian memasak memang menjadi fondasi utama seorang chef. Namun menurut Chef Bayu, Ketua Sanur Chef Community sekaligus Executive Chef Hotel Griya Santrian Sanur, kemampuan teknis saja tidak cukup untuk menjadikan seorang chef benar-benar hebat. Sikap, karakter, dan cara memimpin tim justru menjadi penentu utama keberhasilan sebuah dapur.

Menurut Chef Bayu, ada dua sikap mendasar yang seharusnya dihindari dalam karirnya sebagai profesional Chef.

1. Chef yang Merasa Dirinya Paling Hebat.

Seorang chef yang merasa dirinya paling hebat cenderung menutup mata terhadap proses belajar. Dunia kuliner terus berkembang, tren, teknik, dan selera tamu selalu berubah. Ketika seorang chef merasa sudah “paling tahu”, maka saat itulah ia berhenti berkembang. Menurutnya, kesombongan justru menjadi penghambat terbesar dalam membangun dapur yang solid dan kreatif.

2. Chef yang Tidak Mau Menerima Masukan dari Tim

Dapur adalah kerja tim, bukan panggung satu orang. Chef yang menutup diri terhadap masukan dari tim akan kehilangan banyak potensi ide dan solusi. Setiap anggota tim memiliki sudut pandang, pengalaman, dan kreativitas yang bisa memperkaya kualitas hidangan maupun alur kerja dapur. Menolak masukan sama artinya dengan melemahkan kekuatan tim itu sendiri.

Sebaliknya, Chef Bayu menekankan bahwa ada beberapa nilai utama yang wajib dimiliki oleh seorang chef agar mampu memimpin dapur dengan baik dan berkelanjutan.

1. Memiliki Jiwa Memimpin dan Merangkul Tim

Seorang chef adalah pemimpin, bukan hanya atasan. Jiwa kepemimpinan tercermin dari kemampuan merangkul tim, membangun rasa saling percaya, dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Chef yang baik mampu menginspirasi, bukan menakuti; mengarahkan, bukan memerintah semata.

BACA JUGA:  5 Tips Traveling Naik Kereta Semarang ke Surabaya

2. Mampu Mendelegasikan dan Mengajarkan Ilmu kepada Tim

Menurut Chef Bayu, ilmu yang tidak dibagikan akan berhenti pada diri sendiri. Chef harus mampu mendelegasikan tugas dengan bijak sekaligus mengajarkan pengetahuan dan keterampilan kepada tim. Dengan begitu, tim akan tumbuh, menjadi lebih mandiri, dan dapur pun menjadi lebih kuat secara keseluruhan.

3. Memiliki Sifat Mengayomi dan Berdiri Paling Depan Saat Ada Masalah

Pemimpin sejati tidak bersembunyi di balik tim saat masalah muncul. Chef Bayu menekankan bahwa seorang chef harus berani berdiri paling depan ketika terjadi kesalahan atau tantangan. Mengayomi tim berarti melindungi, membimbing, dan bertanggung jawab bersama, bukan saling menyalahkan.

Bagi Chef Bayu, menjadi chef sejati bukan soal siapa yang paling hebat memasak, melainkan siapa yang mampu membangun tim, menumbuhkan orang-orang di sekitarnya, dan menciptakan dapur yang solid serta penuh rasa saling menghargai.

Dengan sikap rendah hati, kepemimpinan yang kuat, dan jiwa mengayomi, seorang chef tidak hanya menciptakan hidangan lezat, tetapi juga melahirkan generasi chef yang lebih baik di masa depan. (LB-01)

Post ADS 1