Kesehatan

Dilema Bisnis Pariwisata Terkait COVID-19

Denpasar, Lintasbali.com – Corona Virus Diseas 2019 (COVID-19) yang mewabah ke sebagian besar belahan dunia ini memang benar-benar melumpuhkan perekonomian dunia. Penyebarannya yang massive tidak bisa dianggap sebelah mata, tidak melihat latar belakang sosial dan profesi, usia, wilayah dan batasan pisik lainnya.

Industri Pariwisata yang core business-nya melibatkan “antar manusia” memang berada dalam dilema yang sulit untuk dibahas dewasa ini. Dari segi perhitungan bisnis industri harus bergerak untuk meraih keuntungan, sementara dari segi keselamatan manusia perlu dipertimbangkan pergerakan itu seperti memberi ruang penyebaran virus.

K. Swabawa, CHA (Wakil Ketua IHGMA Bali)

Tentunya kita tidak boleh menyerah begitu saja, karena prinsip penyebaran virus adalah karena adanya pasien atau orang yang terpapar virus dan berpotensi menularkannya kepada orang yang sehat. Dari sini upaya preventive dapat dilakukan seperti yang telah berjalan misalnya pengecekan kesehatan di awal (heating detector), penyediaan sarana membersihkan tangan (antiseptic), penyemprotan disenfektan di lingkungan dan sebagainya.

Himbauan pemerintah agar masyarakat menghindari kegiatan keramaian dan berkumpul atau mengadakan kegiatan besar patut diikuti dengan kesadaran akan penyebaran virus ini. Berdasar pola tersebut, maka akan wajar jika melihat orang-orang untuk sedikit yang travelling dan artinya business melemah. Banyak pebisnis yang mengeluh akan hal ini.

Tetapi harus dimaklumi juga bahwa pemerintah selalu berusaha melakukan langkah-langkah strategis terkait destination exposure bahwa wilayahnya aman untuk dikunjungi dan dikuatkan lagi dengan upaya pencegahan yang dilakukan. Faktanya; masyarakat dunia semakin tinggi kesadarannya akan kesehatan dan melakukan self protection agar terhindar dari penyebaran virus ini.

Pemberlakuan kembali Visa on Arrival yang menjadi polemik di industri juga seharusnya disikapi dengan bijak bahwa hal tersebut bagus untuk saat ini dan dapat menjadi bagian dari proses first screening calon pengunjung dari luar negeri.

BACA JUGA:  Denpasar Barat Disemprot 110 Ribu Liter Desinfektan

Terkait parade Ogoh-Ogoh saat malam pengerupukan yang mengundang banyak peminat untuk bergabung dan hadir sebagai penonton juga sebaiknya ditunda dulu penyelenggaraannya dan bisa dialihkan menjadi kegiatan Festival Kreativitas Muda Bali nanti ketika kondisi sudah membaik.

Sesuai edaran dari Majelis Desa Adat Provinsi Bali dan pemerintah Provinsi Bali bahwa pengarakan ogoh-ogoh secara langsung adalah bukan bagian ritual dari perayaan hari suci Nyepi. Tetapi kegiatan kreatifitas setelah acara Tawur Kesanga. Sehingga kegiatannya tidak bersifat mutlak wajib diselenggarakan pda saat itu.

Kembali pada topik awal terkait dilema bisnis pariwisata dewasa ini, yang paling penting dan urgent dilaksanakan saat ini adalah bukan pada meningkatkan volume bisnis dari luar, namun pada pengelolaan in house activities dan captive market serta menjaga cash flow agar tidak ke arah negative balance.

Tanpa bermaksud meremehkan marketing strategy dalam peningkatan volume bisnis dari luar pada kondisi saat ini, hal itu hanya akan menambah harapan yang belum dapat dipastikan hasilnya mengingat market audience sedang “break” sesaat. Namun, bukan berarti strategi pemasaran dihentikan total, sebaiknya siapkan strategi baru untuk menghadapi masa pemulihan nantinya agar benar-benar mampu mensubsidi kerugian yang dialami pada periode saat ini.

Kita semu berharap semoga bencana COVID-19 ini segera berlalu dan keadaan dapat segera pulih seperti sediakala. Pebisnis dan pelaku usaha sebaiknya jangan mengeluh berlebihan apalagi menyalahkan pihak-pihak.

Bali telah mengalami kejadian serangan bom, gunung meletus, gempa dan sebagainya yang sempat melumpuhkan perekonomian kita. Hanya berusaha, soliditas dan sinergi bersama-sama kita dapat melaluinya dengan ikhlas serta selalu mensyukuri anugerah-Nya. (Red/LB/Swabawa)

Post ADS 1



error: STOP!! Silahkan kontak redaksi Lintasbali.com untuk keperluan penggunaan berita!