Seputar Bali

Garap Pasar Domestik, Yakin Masyarakat Menyiapkan Dana Untuk Berlibur?

Denpasar, Lintasbali.com – Bali telah dibuka untuk pasar wisatawan domestik sejak 31 Juli 2020. Beberapa tempat usaha wisata seperti hotel, restoran, tempat rekreasi terlihat sudah buka. Pemandangan yang kita lihat sudah mulai ada aktifitas dibanding bulan-bulan sebelumnya. Bagaimana pertumbuhan bisnisnya?

Menurut Swabawa, praktisi pariwisata di Bali, jika kita melihat aspek urgensi dari segi keuangan, masyarakat lebih memprioritaskan ketahanan pangan dan kesehatan untuk keluarga dibanding berlibur.

K. Swabawa, CHA (Praktisi Pariwisata Bali dan Wakil Ketua DPD IHGMA Bali)

Jika lihat bisnis perhotelan, menurut informasi dari member IHGMA Bali, tingkat hunian berkisar 3-5% untuk hotel yang sudah buka, itupun banyak dibantu karena paket daycation yang ditawarkan yaitu berlibur menikmati fasilitas hotel selama 5-6 jam dengan harga super murah.

Pun jika ada yang mencapai 8-9% pada bulan Agustus ini adalah karena adanya kegiatan pertemuan dari pemerintah berupa pelatihan atau meeting baik pemerintah pusat maupun daerah.

Swabawa berharap adanya terobosan lain untuk menggairahkan lagi usaha pariwisata di Bali. Dijelaskannya bahwa market FIT dari pasar domestik belum menjanjikan di tengah pandemi saat ini.

“Paket daycation ini kan tidak bisa berkelanjutan karena daya beli masyarakat juga terbatas seiring rendah atau berkurangnya pendapatan mereka”, kata Swabawa.

Melihat fakta demikian, dirinya secara pribadi yakin masyarakat memilih menyiapkan dananya untuk pemenuhan kebutuhan pokok seperti pangan dan kesehatan. Jadi dana berlibur itu otomatis memang tidak ada atau ditiadakan. Kecuali misalnya digarap kerjasama antar daerah dimana masing-masing pemda yang ada di Indonesia saling bertukar destinasi melaksanakan kegiatan di daerah-daerah lainnya. Karena yang nyata sekarang punya uang adalah pemerintah.

Hal lainnya juga adalah bisa dengan menghimbau perusahaan swasta nasional untuk mendukung program pariwisata di daerah. Menurutnya dari sekian perusahaan yang terdampak langsung secara besar dari wabah corona ini tentu masih ada perusahaan yang kondisinya masih sehat dari segi operasional.

BACA JUGA:  Ramia Adnyana : Kita Harus Agresif Menuju Pembukaan Destinasi Zonasi Hijau

“Kalaupun income-nya menurun tapi tidak separah industri pariwisata yang benar-benar lumpuh total. Misalnya jasa telepon selular dan penyedia internet atau bisnis konveksi besar. Pemerintah bisa menggandeng sektor ini untuk menggairahkan pariwisata di Bali sebagai representasi citra pariwisata nasional dalam membangun public trust” pungkas Swabawa yang saat ini menjabat Wakil Ketua IHGMA Bali. (Red/LB)

Post ADS 1



error: STOP!! Silahkan kontak redaksi Lintasbali.com untuk keperluan penggunaan berita!