Business Destinasi News Pariwisata & Budaya Seputar Bali

Homestay di Desa Wisata Sebagai Media Edukasi Kearifan Lokal Bagi Wisatawan

DENPASAR, lintasbali.com – Kegiatan webinar bertajuk “Tata Kelola Homestay di Desa Wisata” dihelat oleh platform aplikasi digital GODEVI (Go Destination Village) Jumat (7/5/2021) melalui ruang pertemuan dalam jaringan. Kegiatan yang dihelat Godevi ini bekerja sama dengan DPD MASATA Bali dan didukung penuh oleh Swahita Ubud dan Stanagiri.

Co Founder Godevi, I Putu Gatot Adiprana, S.Par.,M.Par dalam sambutannya menyampaikan bahwa pihaknya senantiasa berupaya mendekatkan wisatawan dengan destinasi meskipun melalui virtual sehubungan pembatasan kegiatan akibat pandemi COVID-19.

Co Founder Godevi, I Putu Gatot Adiprana, S.Par.,M.Par

“Sejak berdiri di tahun 2018 hingga kini kami telah mendampingi 25 desa wisata baik di Bali dan luar Bali mulai dari menyiapkan, mengemas hingga mempromosikannya. Kedepan kami sedang merancang menambah lagi program Godevi sebagai konsultan manajemen destinasi, penelitian dan pengembangan destinasi,” kata Gatot Adiprana.

Adiprana menambahkan, Pariwisata tidak selamanya harus dinikmati secara pisik namun juga merupakan kebutuhan psikologis sehingga dapat pula digarap melalui interaksi dan memvisualisasikannya dalam format digital seperti ini.

Godevi aktif mempromosikan destinasi termasuk pedesaan seperti desa wisata melalui website Go Destination Village, selain juga menjadi sebuah platform tourism education baik untuk wisatawan sebagai product review, juga bagi publik yaitu masyarakat dan pelajar.

Dalam paparannya, I Ketut Swabawa, CHA memgatakan bahwa homestay sebagai milik warga masyarakat di desa wisata sangat perlu dibenahi tata kelolanya agar tidak terlepas dari nilai kearifan lokal desa setempat.

Usaha akomodasi dari beberapa tahun lalu sangat banyak jumlahnya dan saling mempengaruhi satu jenis akomodasi ke yang lainnya. Homestay sebagai salah satu jenis akomodasi milik masyarakat khususnya yang ada di desa wisata agar tidak terpancing ke arah konsep perhotelan konvensional.

“Jadi produk dan layanannya mesti tetap mengandung estetika – logika – etika namun juga harus tetap mengandung nilai local wisdomnya. Bisa dalam bentuk desain dan bahan / material bangunannya, jenis kuliner yang disajikan, dekorasi kamar dan furniture, dan yang terpenting adalah adanya interaksi antara tuan rumah dengan wisatawan yang menginap,” kata Swabawa saat ditemui diruang kerjanya di Denpasar, Jumat (7/5/2021).

Terkait kegiatan yang dihelat Godevi ini Swabawa juga sangat mengapresiasi sebagai bentuk implementasi era digital pada produk wisata berbasis masyarakat. Saat ini semua bisa ditemui melalui jari-jari di media gadget kita. Swabawa berharap desa wisata termasuk homestay juga teredukasi dengan adanya aplikasi digital platform seperti Godevi ini.

“Jadi bukan hanya promosi di medsos yang sifatnya publik, tapi juga harus tampil di marketplace sehingga strategi pemerintah yaitu Branding – Advertising – Selling (BAS) tereksekusi dengan baik. Produk yang telah tersedia di marketplace menunjukkan telah masuk kategori selektif dan advertitif, calon wisatawan lebih mudah mempelajari produk tersebut dan akhirnya akan membelinya,” jelas Swabawa yang dipercaya sebagai Ketua Pokja Desa Wisata DPP MASATA ini.

Peserta webinar berasal dari luar Bali seperti NTT, Kalimantan Selatan, Jakarta, Sumatera Barat dan dihadiri kalangan pemerintahan, pokdarwis, pengelola desa wisata, pemilik homestay, juga dosen dan mahasiswa kepariwisataan.

Bertindak sebagai moderator, Ni Made Gandhi Sanjiwani, S.Par.,M.Sc sekaligus sebagai Chief Business Officer Godevi menyampaikan kesimpulan webinar dalam 3 hal. Pertama, Homestay di desa wisata harus dapat memberi nilai lebih dalam pengembangan desa wisata; Kedua, Homestay agar dikelola secara terintegerasi pada produk – layanan – manajemen; Ketiga, Homestay dapat menjadi media edukasi kearifan lokal bagi wisatawan.

Di akhir acara diumumkan pula door prize yang dipersembahkan oleh Swahita Ubud berupa voucher menginap untuk pertanyaan terbaik yang diberikan kepada Ibu Dini seorang pemilik homestay di Buleleng sekaligus Ketua Buleleng Homestay Association (BUHSA). (SW)