I Made Widayadnya, Hasilkan Puluhan Layangan Celepuk Setiap Hari

Share

Denpasar, Lintasbali.com – Bermain layang-layang adalah salah satu hoby yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat, khususnya di Bali. Saat ini bisa kita jumpai ada ribuan layang-layang berbagai jenis mengudara. Yang paling menonjol dan dominan diterbangkan yaitu jenis layangan burung hantu atau di Bali lebih dikenal dengan sebutan layangan Celepuk.

Fenomena layangan Celepuk saat ini memang melanda hampir seluruh daerah di Bali. Di Denpasar sendiri layangan jenis Celepuk sudah sangat menjamur dengan berbagai ukuran dan bentuk.

Redaksi Lintasbali.com berkesempatan melihat langsung proses pembuatan layangan jenis Celepuk disalah satu pengrajin atau pembuat layangan ini. Berlokasi di Denpasar, tepatnya di daerah Sanur, ada pembuat atau istilah Balinya Undagi layangan yang sudah bergelut dengan layangan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

I Made Widayadnya, adalah seorang pengrajin atau pembuat layang-layang tradisional Bali. Namun kali ini ditengah pandemi covid-19, dirinya lebih banyak menerima pesanan layangan jenis Celepuk dengan berbagai ukuran mulai dari 1 meter hingga 5 meter bentang sayap layangan. Bahkan pernah suatu ketika membuat layangan Celepuk dengan lebar bentang sayap mencapai 7 meter dan layangan itu merupakan layangan terbesar jenis Celepuk yang pernah ada di Sanur.

Saat ditemui dirumahnya, I Made Widayadnya yang lebih dikenal oleh masyarakat Sanur dengan panggilan Sadeg Dalem Blanjong Atau Dasaran Alit Dalem Blanjong mengatakan fenomena banyaknya layangan Celepuk dikarenakan layangan jenis ini mudah dibuat dan mudah diterbangkan. Mengingat saat masa pandemi covid-19, Pemerintah melarang masyarayat untuk berkumpul atau berkerumun.

Jika tidak ada pandemi covid-19, masyarakat khususnya pecinta layang-layang pasti sudah menaikkan layangan dengan ukuran lebih dari 8 meter. Sudah barang tentu memerlukan banyak orang untuk menerbangkannya sehingga dapat melanggar himbauan dari pemerintah untuk tidak berkerumun.

BACA JUGA:  Semarak Love is in the Airport di Bandara I Gusti Ngurah Rai

Harga yang dipasang untuk jenis layangan jenis Celepuk bervariasi. Mulai dari 80 ribu hingga ratusan ribu tergantung besar dan lebaranya layangan. Untuk bambu yang digunakan sebagai rangka layang-layang menggunakan bambu jenis tiying petung atau tiying santong yang didapatkan dari penjual bambu langganannya.

Dirinya mengatakan, hoby bermain layang-layang sejak kecil secara tidak langsung membuatnya menekuni pembuatan layang-layang. Dalam sehari mampu menyelesaikan 5-7 buah layangan dengan berbagai ukuran. Bahkan jika ramai pesanan, dia dapat membuat puluhan layangan siap terbang. Hal ini sangat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari ditengah pandemi covid-19. (Red/LB)

error: STOP!! Silahkan kontak redaksi Lintasbali.com untuk keperluan penggunaan berita!