Seputar Bali

IB. Purwa Sidemen : BANYU PINARUH “Mengawali Siklus Baru Dengan Pembersihan Diri”

Denpasar, Lintasbali.com – Bertepatan pada hari ini, Redite Paing Sinta (Minggu, 05 Juli 2020) adalah hari pertama pada siklus kehidupan kalendar, masyarakat Hindu Bali, dengan sebuah penyucian diri yaitu hari suci Banyupinaruh.

Istimewanya lagi, pada hari ini juga jatuh bertepatan dengan hari Purnama Sasih Kasa. Hari yang sangat istimewa dan memiliki makna religius yang sangat tinggi. Pada hari suci Banyupinaruh inilah, dimulai saat pagi hari menjelang sebelum mengawali berbagai kegiatan, umat Hindu datang ke sumber air atau pantai untuk melaksanakan ritual pembersihan diri (melukat).

Sehari sebelumnya yaitu pada Saniscara Umanis Watugunung adalah hari suci Saraswasti, yang dirayakan sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan bagi umat manusia. Dewi Saraswati, sebagai simbol Dewa penguasa ilmu pengetahuan, memberikan berkah dan tuntunannya bagi umat manusia agar umat manusia senantiasa belajar dan memiliki pengetahuan yang cukup dalam menjalankan berbagai kehidupannya di dunia ini. Manusia yang tidak berpengetahuan akan tertindas dan menderita.

Mengawali perjalanan hidup dengan berpengetahuan, memerlukan kesiapan mental dan ditandai dengan penyucian atau pembersihan diri, dimana pada hari penyucian diri ini di sebut dengan Banyupinaruh. Banyupinaruh, berasal dari kata banyu yang berarti air (sumber kehidupan) dan pinaruh dari kata pangeweruh (pengetahuan). Secara filosofi bermakna membersihkan atau menyucikan diri dengan air ilmu pengetahuan, karena memang pikiran yang kotor atau kegelapan hanya bisa dibersihkan dengan pengetahuan suci.

Tuntunan pada salah satu kitab suci Hindu yaitu kitab Mānawa Dharmaśāstra (Manu Dharmaśāstra)disebutkan pada buku ke-4 (atha caturtho’dhyāyaḥ), yang menguraikan tentang cara-cara yang layak bagi seseorang dalam berusaha menunjang hidupnya sesuai menurut status sosial dan cara mencari sumber kehidupan, pada sloka ke-19 sebagai berikut:

BACA JUGA:  Wakil Gubernur Bali Dorong HFLA Bali Cetak SDM Unggul Di Bidang Front Liners

buddhi vṛddhi karāṇyāśu
dhanyāni ca hitāni ca,
nityaṁ sāstrāṇya vekṣeta
nigamāṁś caiva vaidikān

Artinya:
Hendaknya ia setiap hari memperdalam ilmu pengetahuan misalnya kesusastraan klasik, kesusastraan kuno, filsafat, ilmu ekonomi, ilmu obat-obatan, astrologi dll, yang dengan cepat akan menumbuhkan kebijaksanaan, mempelajari segala yang mengajarkan bagaimana mendapatkan harta; segala yang berguna untuk hidup keduniawian dan demikian pula mempelajari Nigama yang memberi keterangan-keterangan Weda.

Uraian sloka ini memberikan gambaran bahwa mencari bekal hidup adalah dengan memperdalam ilmu pengetahuan, sesuai dengan bidang dan kemampuannya. Tiada waktu untuk berhenti dan merasa puas dengan yang sudah diketahui dan dipelajari. Karena pengetahuan itu sangat luas. Mengisi diri setiap hari dengan ilmu pengetahuan adalah cara atau jalan mendapatkan dharma (kebenaran).

Hanya dalam kondisi bersih, baik secara fisik maupun rohani, manusia siap untuk memulai belajar dan mengisi diri dengan ilmu pengetahuan. Ilmu yang dipelajari dan didapatkan hendaknya dipergunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga dalam menjalani kehidupan ini tidak dengan terbebani dan menderita.

Berbekal dengan ilmu pengetahuan, manusia bisa memperbaiki diri dalam kehidupannya, termasuk pada kehidupannya yang akan datang. Manusia Hindu Bali meyakini bahwa kehidupan masa lalu (atita), kehidupan masa kini (wartamana), dan yang akan datang (nagata) adalah akibat dari karma atau hasil perbuatan manusia itu sendiri.

Kehidupan masa lalu, saat ini, dan yang akan datang merupakan siklus kehidupan manusia sebelum mencapai kesempurnaan (moksa – tidak terlahir kembali). Ini sebuah proses yang sangat sulit. Oleh karena itu, dengan memiliki dan melaksanakan pengetahuan dharma-lah manusia terarah menuju penyatuan dengan Brahman.

Penyucian diri pada hari suci Banyupinaruh adalah langkah awal untuk bersiap menerima ajaran dharma, mencari ajaran dharma, dan melaksanakan ajaran dharma (kebenaran). Tanpa niat yang baik, tanpa dibekali perbuatan berbudi luhur, maka diri tidak akan bersih/suci dan pengetahuan dharma (kebenaran) akan sulit meresap pada diri manusia.

BACA JUGA:  Perkembangan Arak Bali Lewat Pergub No. 1 Tahun 2020

Menjadilah manusia yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat sehingga hidup didunia ini tidak menjadi sia-sia. Sepanjang memiliki niat untuk mengisi diri, ilmu pengetahuan tersebar luas dan bisa dipelajari sepanjang masa. Manusia masih memiliki tugas banyak yang harus dipelajari, diketahui dan dilaksanakan. Manusia yang tidak bersih (suci diri), tidak mengisi diri dengan ilmu pengetahun adalah manusia tiada berguna.

Pada kitab Sarasamuccaya, yaitu sloka 45 & 46 disebutkan sebagai berikut:

Kunang ikang wwang pisaningun damȇlakȇnang dharmasādhana, apa-apaning pari, wūkaning antiga padanika, rūpaning hana tan papakȇna.

Artinya:

Bahwasannya orang yang sama sekali tidak melakukan pekerti dharma, tak ubahnya seperti sekamnya padi atau sebagai telur busuk, telurnya ada, akan tetapi tidak ada gunanya.

Apan purih nikang pṛthagjana, tan dharma, tan kāma, kasiddha denya, nghing mātya donyan ahurip, doning pātinya, nghing janm muwah, ika tang pṛthagjana mangkan kramanya, tan hana pātinya idȇp nika, taka pīh, tan hana pahinya lawan dukut, ring kapwa pāti doning jānmaya, janma doning pātinya.

Artinya: Adapun manusia yang sedemikian halnya ini, sia-sialah hidupnya karena ia tidak akan berhasil mendapat dharma dan kesenangan. Hanya kematianlah yang menjadi tujuan hidupnya karena setelah mati ia akan menjelma kembali. Demikianlah halnya hidup orang yang tidak melakukan dharma, yang tidak memikirkan akan kematian dan kesia-siaan hidupnya. Sebagai apakah ia? Tidak bedanya sebagai rumput yang mati untuk hidup kembali dan hidup lagi hanya untuk menunggu matinya.

Isilah diri dengan pengetahuan, persiapkan diri dengan bersih dan suci untuk menerima pengetahuan agar bersemayam dengan baik pada diri kita dan menjadikannya panduan dan sesuluh jalan hidup di dunia ini. Jangan menjadi manusia yang terlahir hanya untuk menunggu kematian. Jangan sekali-sekali menjadi manusia bodoh dan menyia-nyiakan kesempatan belajar, karena terlahir manjadi manusia adalah yang utama, menjadi makhluk yang memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan menolong dirinya sendiri. Semoga alam semesta ini senantiasa memberikan kesejukan dan kedamaian.

BACA JUGA:  "Friends of Hatten" Membership Platform from Hatten Wine

Rahajeng Rahina Suci Banyupinaruh dan Purnama Kasa.

IB. Purwa Sidemen, S.Ag., M.Si
Dosen Program Studi Pendidikan Agama
Fakultas Pendidikan – Universitas Hindu Indonesia Denpasar