Pendidikan Seputar Bali

IB. Purwa Sidemen : WUKU KUNINGAN, Hari-hari Penuh Anugerah dan Perlindungan Diri

Denpasar, Lintasbali.com – Setelah melewati satu rangkaian penuh Wuku Dungulan, dengan puncak perayaan hari kemenangan dharma yaitu tepat pada Buda Kliwon Dungulan atau dikenal dengan hari raya Galungan, maka selanjutnya umat Hindu di Bali memasuki satu wuku (7 hari) berikutnya yaitu Wuku Kuningan.

Hari raya Kuningan, merupakan rangkaian hari raya Hindu sebagai benteng etika dan moral manusia untuk tetap menjaga kemenangan kebenaran (dharma) atas kejahatan (adharma). Menjalankan dan mempertahankan ajaran kebenaran dalam konsep ajaran agama-agama di dunia adalah sebuah kewajiban umat manusia.

Tantangan terbesar dalam mempertahankan dan menjalankan ajaran kebenaran ini justru datang dari dalam diri manusia, yang dikuasai oleh sifat asuri sampad (sifat ketamakan/keraksasaan). Pola hidup masyarakat dengan serbuan budaya modern juga menjadi tantangan besar yang terus mengikis keimanan dan moral manusia.

Luar biasanya, umat Hindu di Bali dalam setiap perputaran 210 hari senantiasa diingatkan kembali melalui hari dan upacara tertentu dalam mempertahankan dharma. Mengawali masuk pada wuku Kuningan yaitu Redite Wage Kuningan, dikenal juga dengan hari Ulihan Galungan.

Hari ini disebut sebagai “Dewa lunga atinggalaken amertha muang kadirgayusan”, tersurat demikian yang artinya pada hari Ulihan Galungan ini para Dewa kembali ke tempat beliau masing-masing. Pada hari ini diyakini juga sebagai kembalinya Bhatara-Bhatari ke kahyangan, dimana pada hari ini umat Hindu Bali sekaligus memohon anugerah dari beliau.

Keesokan harinya, yaitu Soma Kliwon Kuningan, adalah hari suci Pemacekan Agung. Hari ini merupakan tonggak (pacek) bagi umat Hindu Bali untuk memperkuat keyakinannya dalam mempertahankan ajaran dharma dan terhindar dari gangguan Sang Kala Tiga.

Pada hari Pemacekan Agung ini, umat Hindu Bali menghaturkan segehan agung dengan memotong ayam semulung, yang dihaturkan pada lebuh atau tempat masuk pekarangan rumah. Proses ini sering disebut somya atau proses kembali ke wujud lemah lembut, sejuk, penuh kebijakan dan ramah – Dewa Ya Bhuta Ya.

Selanjutnya pada hari Buda Paing Kuningan, adalah hari dimana Bhatara Wisnu melakukan yoga dan hari itu beliau memberikan anugerah berupa kesenangan, keagungan, keluwesan, daya tarik, memenuhi harapan dan rasa simpatik kepada umat manusia, ini disebut dengan “asung wilasa”.

Selanjutnya pada hari Sukra Wage Kuningan, sehari sebelum hari raya Kuningan umat Hindu biasanya menyiapkan segala upakara, sama halnya seperti hari penampahan Galungan, dan pada hari ini juga merupakan simbol “pagengan pah adnyanan nirmala suksma” yang artinya umat Hindu melakukan pengendalikan bathin dan pikiran agar tetap jernih dan suci.

BACA JUGA:  Sinergi PT. Pegadaian dan Kejati Bali Lindungi Aset Negara

Dalam lontar Sundarigama tersurat, “Saniscara Kliwon Kuningan tumurun mwah wateki dewata kabeh mwang Sang Dewa Pitara asuci laksana neher amukti banten widhi widananya sege sulanggi, tebog, saha raka den ajangkep pasucian canang wangi-wangi saha runtutanya, gawe gegantungan tamiang caniga ring tretepaning sarwa wewangunan, aywa muja banten kalangkahen jegjeg sang aditya, asut juga pujanan apan ri sampunya tajeg sanghyang surya watek dewata kabeh mur mantuk ing suralaya”.

Pada intinya hari tersebut diperingati sebagai hari suci turunnya para dewa dan roh para leluhur ke dunia untuk menyucikan diri sambil menikmati persembahan dari umat. Kuningan, berasal dari kata “uning” atau “nguningang” yang artinya tahu, memberitahukan atau eling.

Umat Hindu Bali saat hari raya Kuningan ingat atau eling dan menyampaikan pemberitahuan kepada para leluhur atau pitara serta para dewata, pada hari Saniscara Kliwon Kuningan atau Tumpek Kuningan adalah hari dimana beliau dihaturkan sesajen (upakara) sebagai ungkapan terima kasih dari pratisentana (umat) serta sekaligus memohonkan anugerah dari beliau.

Upakara sesajen yang dipersiapkan diantara berupa satu nasi selanggi, tebog, raka-raka sejangkepnya, pasucian, canang wangi-wangi beserta perlengkapannya, segehan agung serta membuat gegantungan, tamiang, kolem/lamak, caniga di tiap-tiap atap bangunan.

Dari berbagai jenis upakara yang khas pada hari raya Kuningan tersebut, seperti tamiang merupakan simbol perisai (tameng) dengan bentuk bulat seperti perisai. Tamiang sendiri sering dimaknai sebagai simbol perlindungan diri karena bentuknya seperti perisai, bentuknya yang bulat dipahami juga sebagai lambang Dewata Nawa Sanga yang merupakan penguasa sembilan arah mata angin. Tamiang juga diartikan sebagai roda alam atau “cakraning manggilingan” yang dipahami sebagai roda kehidupan yang selalu berputar.

Sarana lainnya berupa “endongan”, terbuat dari rangkaian janur berbentuk seperti kompek (tas). Endongan berbentuk kompek atau tas ini berisikan berbagai bekal bagi umat manusia dalam mengarungi kehidupan. Makna bekal yang utama yang terdapat pada endongan ini yaitu bekal berupa jnana atau ilmu pengetahuan. Terdapat juga didalamnya yaitu “ter”, dimana ter ini merupakan simbol senjata berupa panah, sebagai senjata kelengkapan perang. Ter dengan wujud panah ini merupakan simbol dari ketenangan pikiran.

BACA JUGA:  BI Mengedukasi Masyarakat Melalui BI Mengajar

Kolem atau sering juga disebut lamak adalah simbolis kewibawaan. Sampian gantung merupakan simbol penolak bala dan pada selangi/tebog terdapat nasi kuning sebagai simbol dari kemakmuran. Nasi kuning menjadi salah satu sarana upacara yang wajib pada saat Kuningan. Selain nasi kuning juga terdapat nasi putih (berwarna putih) sebagai simbolis kesucian. Simbol nasi kuning menjadi lambang kemakmuran, kebahagiaan dan juga sebagai ucapan terima kasih dan wujud syukur atas segala anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Perlengkapan sarana upakara pada hari raya Kuningan ini, seperti tamiang, endongan, ter, dan yang lainnya merupakan alat-alat untuk berperang. Demikianlah diberikan gambaran pada kita bahwa umat manusia berada pada keadaan “berperang” dalam mengarungi kehidupan ini. Berperang pada diri sendiri untuk mengalahkan segala hawa nafsu yang merugikan dan berperang dengan serang-serangan dari luar diri yang juga merugikan umat manusia.

Bekal jnana dalam berperang juga merupakan bekal penting dalam mengarungi kehidupan untuk kebahagiaan duniawi dan juga akhirat. Umumnya, pelaksanaan upacara pada saat Kuningan atau pun persembahyangan dilakukan hanya setengah hari saja, dari pagi hingga siang hari.

Sebelum tepat pukul 12.00 siang pelaksanaan sudah harus berakhir, karena diyakini bahwa sebelum siang hari energi alam semesta seperti kekuatan pertiwi (bumi), akasa (ether), apah (air), teja (cahaya), dan bayu (udara) mencapai puncaknya. Setelah siang hari energi panca maha bhuta tersebut memasuki masa pralina (peleburan) yang mana kelima energi tersebut sudah kembali ke asalnya, dan juga para Pitara (leluhur), Bhatara dan Dewa sudah kembali ke alam nirwana.

Dengan perayaan hari raya Kuningan, bagi umat Hindu (khususnya di Bali), diharapkan tetap mampu menjaga dan menata kehidupan yang harmonis (hita). Menjaga keseimbangan antar sesama, alam serta kepada Sang Pencipta. Tamiang, sebagai salah satu simbol upakara yang selalu ada pada setiap perayaan Kuningan, adalah simbolis perisai untuk membentengi diri dari hal-hal yang bersifat merugikan.

Wujud syukur disimbulkan dengan Tumpeng Kuning, perlambang agar kemakmuran dan kesejahteraan senantiasa dilimpahkan bagi umat Hindu. Endongan, simbolis pengisian diri dengan jnana (pengetahuan), agar umat manusia senantiasa tercerahkan dari kegelapan (awidya).

Sloka-sloka Sarasamuccaya menyuratkan bahwa hanya manusia yang bisa membedakan perbuatan baik dan buruk, dan dengan melebur perbuatan buruk menjadi baik itulah tujuan hidup menjadi manusia. Yang justru banyak terjadi adalah saat manusia mendapat kesempatan dalam hidupnya untuk memperbaiki kehidupannya menjadi lebih baik, malah banyak ingkar akan ajaran-ajaran kebenaran (dharma) dan selalu mengejar harta, mengejar kepuasan nafsu belaka, dan berpikiran tamak.

BACA JUGA:  Siap Menangkan AMERTA, Relawan Golkar Denpasar Barat Inginkan Perubahan

Ajaran agama menghendaki setiap manusia dalam hidupnya, mencari harta dan kepuasan hendaknya selalu berdasarkan dharma. Manusia yang sadar akan kebenaran adalah disebut sebagai orang yang bijaksana. Orang bijaksana, didalam hatinya tidak melekat perasaan sedih dan gembira, tidak pula ditandai oleh kerut kulit, rambut putih dan ketuaan usianya. Orang bijaksana adalah manusia yang sudah dibentengi oleh hati pradnyan, paham akan hakekat hidup, karena dengan kepradnyanan adalah alat untuk menyeberangi lautan kehidupan.

Ida Bagus Purwa Sidemen, S.Ag. M.Si

Kuningan sebagai tonggak turunnya anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi berupa kekuatan amertha dan kepradnyanan, sekaligus sebagai upaya pengendalian diri, introspeksi diri untuk memagari diri agar terlindung dari hal-hal yang bersifat negatif. Hari raya Kuningan juga merupakan hari dimana umat Hindu Bali memberikan penghormatan, melakukan pemujaan dan memohon anugerah dari para leluhurnya.

Leluhur adalah sinar Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang terdekat dengan umat manusia. Leluhur adalah garis vertical langsung yang menurunkan para anak cucu pratisentana, yang oleh umat Hindu di Bali senantiasa dihormati dan juga sebagai tempat memohon perlindungan dalam mengarungi dan menjalankan kehidupan di dunia ini. Terutamanya pengendalian diri dari musuh-musuh dalam diri manusia (sad ripu, sad atatayi, sapta timira). Introspeksi diri juga pada dasarnya adalah pengendalian etika dan moral.

Godaan materi dan budaya modernitas, sangat mudah memberikan dampak dan pengaruh baik ataupun pengaruh buruk pada kehidupan manusia saat ini. Namun, ajaran agama merupakan motivasi dan insprirasi bagi umat manusia, agar umat manusia tetap berada dalam rel kebenaran (dharma).

Peningkatan pelaksanaan sraddha bhakti umat Hindu Bali semestinya tetap berada dalam jalur dan arah tujuan kehidupan yang harmonis (jagadhita). Demikian pula hendaknya para pemimpin bangsa ini, senantiasa berada dalam jalur kebenaran sehingga rakyat yang dipimpinnya bisa mendapatkan kesejahteraan dan terentaskan dari kemiskinan.

Ditulis oleh : IB. Purwa Sidemen, S.Ag., M.Si
Dosen Program Studi Pendidikan Agama
Fakultas Pendidikan – Universitas Hindu Indonesia Denpasar