Seputar Bali

IHGMA Bali Terbitkan Buku ITLS 2026 Paparkan Pariwisata Berkelanjutan

DENPASAR, lintasbali.com — Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali menerbitkan buku ITLS 2026: The Summit Report sebagai dokumentasi akademik sekaligus referensi bagi pengembangan kepemimpinan di sektor perhotelan dan pariwisata.

Buku ini merangkum gagasan, perspektif, dan rekomendasi strategis dari The International Tourism Leaders Summit (ITLS) 2026 yang diselenggarakan pada 25–26 September 2026 di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, Bali.

Mengusung tema “Cross-Border Tourism Leaders’ Perspectives: Balancing Sustainability, Technology, and Human Experience”, ITLS 2026 mempertemukan 22 pembicara utama dari berbagai negara, disiplin ilmu, dan latar belakang profesional.

Forum ini juga diikuti oleh general manager hotel anggota IHGMA Bali serta para pemangku kepentingan di sektor perhotelan dan pariwisata.

Penerbitan The Summit Report menjadi langkah lanjutan IHGMA Bali untuk mendokumentasikan hasil diskusi forum internasional tersebut sekaligus memperluas pemanfaatannya sebagai sumber pengetahuan bagi para pemimpin industri.

Buku setebal 158 halaman ini diterbitkan dalam bahasa Inggris, menggunakan sampul keras dan dicetak berwarna oleh Pustaka Larasan.

Rangkum Perspektif Global tentang Masa Depan Pariwisata

Penyusun buku, Ratu Agung Bagus Ngurah Putra, M.Tr.Par., CHE, CHA, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum IHGMA Bali periode 2026–2030, menjelaskan bahwa buku tersebut dirancang sebagai catatan akademik yang dapat menjadi landasan inspirasi bagi pengembangan kepemimpinan perhotelan dan pariwisata dalam jangka panjang.

Menurutnya, para pemimpin industri perlu memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan ekosistem bisnis pariwisata global.

Kepemimpinan yang dinamis diperlukan agar perkembangan industri tidak hanya memberikan manfaat bagi perusahaan dan pemilik usaha, tetapi juga meningkatkan kepuasan pelanggan serta kesejahteraan para pelaku industri.

Upaya tersebut perlu berjalan seiring dengan komitmen terhadap keberlanjutan dan pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Dengan demikian, inovasi bisnis tidak semata-mata berorientasi pada efisiensi dan pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan dampak sosial, budaya, dan lingkungan.

Untuk memperkuat kualitas penyajiannya, buku berbahasa Inggris ini turut melibatkan Prof. Dr. I Gede Mudana, M.Si., dosen Program Doktor Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali, sebagai editor.

Lima Panel Bahas Teknologi, Investasi, dan Keberlanjutan

Materi dalam ITLS 2026: The Summit Report disusun berdasarkan lima panel utama yang mencerminkan isu strategis dalam pengembangan pariwisata masa kini dan mendatang, yaitu:

1. Human Experience, yang menempatkan pengalaman manusia sebagai bagian penting dalam pengembangan pariwisata.

2. Technology Support, yang membahas pemanfaatan teknologi untuk mendukung inovasi dan efektivitas industri.

3. Responsible Investment, yang menyoroti pentingnya investasi yang bertanggung jawab.

4. Medi-Wellness Tourism, yang mengangkat potensi pariwisata medis dan kebugaran.

5. Sustainability Practices, yang membahas penerapan praktik keberlanjutan dalam kegiatan pariwisata.

Setiap panel menghadirkan perspektif narasumber dengan latar belakang dan keahlian yang beragam. Pendekatan lintas negara dan lintas disiplin ini memperkaya pembahasan mengenai tantangan industri, mulai dari perubahan teknologi dan persaingan global hingga kebutuhan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kualitas pengalaman wisatawan, serta kelestarian lingkungan dan budaya lokal.

ITLS 2026 Hasilkan 20 Rekomendasi Strategis

Salah satu hasil utama ITLS 2026 adalah 20 rekomendasi yang dirangkum ke dalam empat arah strategis bagi pengembangan kepemimpinan dan ekosistem pariwisata.

Pertama, mengutamakan pengalaman manusia. Pengembangan pariwisata perlu memperhatikan keaslian budaya, makna perjalanan, kesejahteraan karyawan, serta keterlibatan aktif masyarakat lokal. Pendekatan ini menempatkan manusia sebagai bagian utama dalam menciptakan pengalaman wisata yang bernilai.

Kedua, memanfaatkan teknologi untuk memperkuat kapabilitas manusia. Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan teknologi digital perlu diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, mendukung pengelolaan destinasi yang cerdas, serta memperkuat kemampuan sumber daya manusia. Penerapannya juga harus memperhatikan privasi, keamanan, dan keandalan data.

Ketiga, mendorong pemulihan ekosistem dan penguatan rantai pasok lokal. Industri pariwisata perlu memperluas keterlibatan sektor lokal, termasuk pertanian, sekaligus mengembangkan pendekatan regeneratif yang berorientasi pada pemulihan lingkungan. Keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui manfaat bagi lingkungan dan komunitas.

Keempat, memperkuat kepercayaan dan kepemimpinan adaptif. Kesiapan menghadapi krisis, kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan, serta kemitraan lintas batas menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem pariwisata yang tangguh dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Keempat arah strategis tersebut menegaskan bahwa masa depan pariwisata membutuhkan pendekatan yang terintegrasi. Keberhasilan industri tidak cukup hanya ditopang oleh kemajuan teknologi atau peningkatan investasi, tetapi juga memerlukan kepemimpinan yang mampu menyelaraskan kepentingan bisnis dengan kebutuhan manusia dan keberlanjutan lingkungan.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Kemakmuran Bersama

Semangat kolaborasi lintas disiplin dan lintas sektor juga tercermin dalam pesan yang tercantum pada sampul belakang buku ITLS 2026: The Summit Report:

“Masa depan pariwisata tidak ditentukan oleh posisinya sebagai sektor unggulan, melainkan oleh kemampuannya untuk berperan sebagai sektor lintas bidang yang menyatukan berbagai sektor lain guna menciptakan kemakmuran bersama serta dampak yang berkelanjutan.”

Pesan tersebut menekankan pentingnya menempatkan pariwisata sebagai bagian dari ekosistem pembangunan yang melibatkan berbagai sektor, termasuk lingkungan, pertanian, teknologi, kesehatan, budaya, dan pengembangan sumber daya manusia.

Melalui penerbitan buku ini, IHGMA Bali menghadirkan dokumentasi pemikiran dan rekomendasi dari ITLS 2026 yang dapat menjadi bahan refleksi bagi para pemimpin hotel, praktisi pariwisata, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya.

Buku ITLS 2026: The Summit Report diharapkan dapat memperluas pemahaman mengenai kepemimpinan pariwisata yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi jangka panjang.

Dengan mengintegrasikan keberlanjutan, teknologi, dan pengalaman manusia, industri pariwisata diharapkan mampu menciptakan nilai yang tidak hanya menguntungkan pelaku usaha, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan. (Rls)

Post ADS 1