SEMARAPURA, lintasbali.com – Pariwisata Bali dengan konsep budaya, alam dan tradisi merupakan keunggulan yang kompetitif harus dijaga dan dikuatkan eksistensinya. Untuk itu seluruh pihak wajib meningkatkan kesadaran akan keunggulan dari keunikan Bali secara filosofis fundamental tersebut melalui aktualisasi yang konsisten dan berdampak.
Seluruh stakeholders termasuk pengusaha pariwisata wajib memprioritaskan sendi-sendi utama kepariwisataan Bali yang bernafaskan Hindu dan budaya spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dengan kata lain, Bali tanpa eksistensi budaya yang telah dimilikinya sejak turun temurun merupakan ancaman di masa depan.
Sejalan dengan spirit tersebut, manajemen Tjendana Corporation yang bergerak di bidang usaha biro perjalanan, akomodasi resort dan villa, transportasi laut dan darat mengaktualisasikan konsep Tri Hita Karana secara seimbang dalam menjalankan bisnis usaha dan tanggung jawab sosial.
Hal tersebut tampak pada kesempatan persembahyangan pada rangkaian hari penyineban piodalan di Pura Penataran Dalem Ped, Nusa Penida, Sabtu, 21 Maret 2026.
Keharmonisan kehidupan sesuai nilai kearifan lokal Bali yaitu Tri Hita Karana dapat menjadi motivasi bagi seluruh umat betapa pentingnya menjaga budaya Bali demi keberlangsungan hidup jangka panjang.
Konsep Palemahan mengajarkan kita untuk mencintai alam, Pawongan untuk menghargai dan peduli sesama manusia, serta Parhyangan untuk mensyukuri semua anugerah dari Sang Pencipta.
Sebagai bagian dari pariwisata Bali yang dianugerahi Ida Sang Hyang Widhi Wasa berbagai keindahan alam dan keselamatan, pihak Tjendana Corporation juga menghaturkan bakti pakelem di Segara sebagai wujud sradha bakti dan syukur pada samudera lautan yang telah memberi aksesibilitas dalam pengembangan destinasi wisata serta menganugerahi keselamatan bagi semua pihak termasuk wisatawan yang berlibur di 3 pulau pendukung pariwisata Bali yaitu Penida, Lembongan dan Ceningan.
Persembahyangan rombongan tersebut dipimpin langsung Ketut Swabawa selaku Chief Operating Officer (COO) TRM Hospitality. Pihaknya berkomitmen dalam mewujudkan pariwisata Bali yang berkualitas dan berkelanjutan melalui penguatan regenerative tourism.
Sebagai tambahan juga menyampaikan point-point penting untuk keberlanjutan pariwisata Bali ke depan. Meliputi Penanganan sampah yang terintegrasi dan modern, manajemen lalu lintas yang lebih baik, ketertiban umum, penegakan hukum yang tegas tentang perijinan usaha dan sosial kemasyarakatan, penguatan budaya dan tradisi.
Jika Bali terlalu cepat maju dalam modernitas tanpa memperhatikan aspek modal dasar sosial yang berbasis budaya maka Bali semakin mudah disalip destinasi lainnya.
Regenerative tourism harus dikuatkan dengan terukur dan pelibatan masyarakat lokal yang merata. Jadi Tri Hita Karana jangan menjadi titel atau tema saja, namun harus menjadi kesadaran kolektif mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai dimensi. (LB)





