Seputar Bali

K. Swabawa : Bijaksana Berhari Raya Galungan dan Kuningan di Masa Pandemi

Denpasar, Lintasbali.com – Tak terasa masyarakat Hindu di Bali segera akan merayakan hari raya Galungan di bulan September ini. Berbeda dengan Galungan sebelumnya di bulan Februari lalu yang kondisi penyebaran COVID-19 belum begitu terasa dan masih ada kegiatan ekonomi, Galungan sekarang ini tentunya dirasakan penuh tantangan.

Bukan hanya dari segi kesiapan keuangan untuk membuat bebantenan serta persiapan hari raya, namun Galungan yang merupakan hari raya terbesar dan paling meriah bagi umat Hindu di Bali juga mesti diantisipasi agar perayaan setiap 6 bulan sekali tersebut jangan sampai menimbulkan keramaian atau berkerumunnya orang.

Dari perspektif tenaga kerja pariwisata, K. Swabawa, CHA, praktisi pariwisata dan perhotelan di Bali menyampaikan penurunan pendapatan per-keluarga di Bali akibat pandemi COVID-19 ini berdampak pada tradisi perayaan Galungan.

“Tetapi esensi hari rayanya tidak mungkin berkurang, karena Hindu mengajarkan kita beryadnya sesuai kemampuan dan memang terdapat tingkatan yadnya baik nista – madya – utama”, kata Swabawa.

Disisi lain Euphoria Galungan juga jangan berlebihan. Dirinya mencontohkan pada pembuatan penjor tidak dibuat dengan dekorasi yang mewah karena biayanya tentu tinggi. Penjor sebagai simbol kemenangan dharma atas adharma dan bentuk rasa syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Yang tidak kalah penting adalah kebiasaan berpesta pora berlebihan sambil minuman tuak dan arak sebaiknya dihindari demi menghemat pengeluaran saat galungan”, tambah Swabawa, Wakil Ketua DPD IHGMA Bali.

Penjelasan Swabawa tentunya bukan tanpa alasan yang rasional, pihaknya menyampaikan tempat usaha pariwisata yang ada di Bali sebagai tempat mencari nafkah masyarakat lokal, belum dapat beroperasi dengan maksimal secara bisnis.

Kemampuan perusahaan dalam membayar gaji karyawannya belum kembali normal apalagi pembayaran THR bagi perusahaan yang biasanya diberikan saat Galungan tentunya akan menjadi pertimbangan tersendiri pula.

BACA JUGA:  Babinsa Nusa Penida Bergerak Semprotkan Desinfektan

Menurutnya, masih banyak perusahaan besar bahkan sebagian besar memberlakukan bekerja parsial misal 2-3 kali seminggu sehingga gaji mereka juga dipotong secara proporsional.

Nah jika tentang tunjangan hari raya, bisa dimaklumi perusahaan selama 5 bulan ini tidak ada pendapatan. Bisa saja THR ditangguhkan atau dibagikan beberapa persen sesuai kemampuan dan kebijakan perusahaan masing-masing. Faktanya, pengusaha di Bali khususnya sudah banyak mengalami kerugian sejak pandemi melanda. Maka dari itu patut menjadi permakluman kita bersama.

Berbicara tentang budaya Bali, hari raya Galungan merupakan momentum yang sangat tepat sebenarnya untuk mempromosikan Bali secara langsung dari segi destinasi. Apalagi kemajuan teknologi informasi saat ini, wisatawan mancanegara terpesona dengan tradisi di Bali yang dilihatnya dari photo atau artikel di berbagai media sosial yang dimiliki hampir 85 % penduduk dunia.

Contohnya penjor  yang sangat identik dengan perayaan Galungan di Bali. Kehadiran penjor tentunya dapat menambah kemeriahan serta mengingatkan warga Bali untuk bersyukur atas apa yang telah didapatkan selama hidupnya.

“Itu sebabnya kami di salah satu unit yang ada di Desa Sebatu Tegallalang dan sekarang sedang menuju pre opening, memposisikan penjor sebagai ikon resort dimana akan terpasang setiap hari sepanjang tahun di masing-masing unit villa kami. Jadi Bali ini perlu ada produk-produk yang otentik mempresentasikan budaya yang dimiliki”, ujar pria yang juga mejabat sebagai General Manager Stanagiri Luxury Retreat didampingi oleh Chief of Overall Innovator (coo) Eka Richnawan saat ditemui di Gianyar, Selasa (1/9).

Di akhir pemaparannya, Swabawa kembali mengingatkan pentingnya umat Hindu di Bali lebih mendalami esensi upacara adat terutama dalam menyambut Galungan di masa pandemi COVID-19 ini.

Dirinya mengajak sebisa mungkin yang berkecukupan janganlah terlalu berlebihan dalam merayakan hari Galungan, yang lainnya juga jangan memaksakan diri bahkan sampai berhutang untuk berhari raya. Karena dikhawatirkan akan terjadi gesekan sosial di masyarakat yang dapat berujung pada tindakan kriminal.

BACA JUGA:  Walikota Apresiasi Denpasar Kite Festival 2022

“Hindu itu mengajarkan kedamaian dan ketulusan, jadi berhari raya tetap bisa dikondisikan sesuai keadaan asalkan niat bakti kita kepada Sang Pencipta adalah tulus dan iklhas sesuai kemampuan.” pungkasnya. (Red/Ariek)

Post ADS 1



error: STOP!! Silahkan kontak redaksi Lintasbali.com untuk keperluan penggunaan berita!