Seputar Bali

Ketut Swabawa : Jangan Lengah di Periode Awal Kebangkitan Pariwisata

DENPASAR, lintasbali.com – Pariwisata Bali harus diakui merupakan harapan penting kebangkitan pariwisata internasional bagi Indonesia. Hal ini memperhatikan bahwa dampak langsung dan tidak langsung yang dapat dinikmati oleh daerah lain luar Bali termasuk juga dampak bagi sektor di luar kepariwisataan.

Mengenai kondisi pariwisata Bali saat ini, secara umum bisa dilihat menunjukkan angka perbaikan di masa reaktivasi pasca fleksibilitas regulasi sejak awal Maret lalu. Sampai saat ini kedatangan harian rata-rata di Bali mencapai 8.000an untuk wisatawan nusantara (wisnus) dan 13.000an untuk wisatawan mancanegara (Wisman). Jadi ekonomi memang mulai bangkit dan ini kesempatan bagus bagi masyarakat Bali untuk bangkit dari keterpurukan selama 2 tahun lebih akibat pandemi Covid-19.

Hal tersebut disampaikan I Ketut Swabawa, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Association of Hospitality Leaders Indonesia (DPP AHLI) saat ditemui di Denpasar pada Rabu, 6 Juli 2022.

Saat ditanya apakah pariwisata Bali akan berjaya kembali di tengah maraknya promosi 5 DSP dan juga destinasi lainnya di Indonesia, Ketut Swabawa mengatakan Pariwisata Bali itu is about authenticity and originality, jadi secara head to head dengan destinasi lain masih berada di atasnya.

“Saya memang perhatikan destinasi lain mendapat perhatian khusus dan bahkan lebih dari pemerintah pusat, dimana kita melihat itu hal wajar demi pemerataan pembangunan nasional. Budaya dan masyarakat Bali ini sangat khas, khususnya SDM kita di sini jauh lebih siap dari aspek karakter hospitality dan juga wawasan pariwisatanya,” papar Swabawa.

Dirinya menyampaikan, Bali tetap menjadi salah satu tujuan utama pasar internasional apalagi akibat kerinduan para repeater and loyal tourist yang tidak bisa datang selama pandemi lalu. Hanya saja menurutnya kita memang tidak boleh lengah apalagi jumawa, semua harus diperhitungkan dengan baik demi mewujudkan public trust.

“Yaa.. manajemen usaha pariwisata mesti serius dan menyiapkan strategi khusus untuk melayani wisatawan ketika wisatawan ini baru memulai datang kembali ke Indonesia juga Bali. Konsep tatakelola, penampilan produk dan pelayanan prima harus lebih baik dari sebelumnya. Kita harus tunjukkan bahwa selama pandemi kita diam dalam bisnis namun upaya menjaga kualitas tetap menjadi budaya kita di pariwisata,” imbuhnya.

Swabawa menekankan, ada hal sensitif sebenarnya cukup rentan dan perlu diperhatikan khususnya pada usaha akomodasi. Dengan pertimbangan mengendalikan keuangan pada aspek biaya karyawan, manajemen semakin banyak menggunakan tenaga kerja casual baik daily worker maupun trainees students dalam operasionalnya.

“Ini tidak salah namun sekali lagi jangan lengah. Mereka itu harus diorientasi dan ditrainingkan lebih baik dari periode yang dulu sebelum ditugaskan di operasional. Trainee students yang awalnya berperan sebagai helper atau runner untuk memback up operasional saat ini banyak kita lihat tampil sebagai frontliner apakah waiter, room attendant atau resepsionis,” jelasnya.

Lantas, apakah itu bisa berdampak pada kualitas pelayanan? Swabawa mengatakan sangat berdampak.

“Oh iyaaa.. sangat berdampak. Apalagi kita perhatikan sekolah mereka kan beda-beda juga tentu level pendidikan juga beda. Misal ada dari SMK, LPK, LKP atau diploma. Strateginya ya mau tidak mau manajemen usaha pariwisata harus menata sistem pemagangan / internship yang bagus,” paparnya.

“Ada pembekalan, pengawasan, pembinaan, penilaian dan motivasi yang kuat. Agar anak trainee tersebut dapat melakukan pekerjaan sebagaimana staff in charge yang semestinya. Jika ini tidak dilakukan maka bisa jadi hasinya tamu bisa komplin karena pelayanan kurang baik bahkan terlalu banyak kesalahan oleh staf ketika melayani tamu. Kan kasian kesempatan awal mendapatkan public / customer trust ini ternoda oleh hal-hal yang kurang antisipatif,” kata Ayah dari tiga orang anak ini.

Menurut Swabawa, dirinya memaklumi strategi usaha pariwisata di masa reaktivasi ini cukup risk taker, bagaimana mendapatkan bisnis dengan berbagai keterbatasan yang tengah dihadapi.

Short term, sebaiknya usaha pariwisata mengawali untuk membuat kesepakatan dengan lembaga pendidikan / pelatihan terkait kesiapan trainee sebelum terjun ke industri. Buat skema bersama terkait kriteria, ukuran, target yang diharapkan sehingga siswa dibekali sebaik-baiknya di sekolah / lembaga. Jadi saling menguntungkan semua pihak : usaha pariwisata, lembaga pendidikan / pelatihan dan siswa,” pungkasnya. (LB)