DENPASAR, lintasbali.com – Keyakinan konsumen di Provinsi Bali tetap berada pada zona optimistis pada September 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tercatat sebesar 122,75, lebih tinggi dibandingkan indeks nasional sebesar 118,10 dan tetap berada di atas ambang optimisme, yaitu 100.
Hal tersebut disampaikan oleh Achris Sarwani, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali dalam keterangan persnya di Denpasar pada Selasa, 20 Oktober 2026.
Ia menyebut, meskipun sedikit menurun dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 123,08, keyakinan konsumen Bali tetap terjaga seiring berlanjutnya aktivitas ekonomi dan pariwisata yang menopang pendapatan serta daya beli masyarakat.

Optimisme tersebut terlihat pada kelompok responden dengan tingkat pengeluaran Rp5–6 juta dan Rp2–3 juta per bulan, yang mencatatkan peningkatan keyakinan dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan status pekerjaan, konsumen di sektor formal dan informal juga menunjukkan optimisme, masing-masing dengan indeks sebesar 120,3 dan 125,7.
Terjaganya keyakinan konsumen tidak terlepas dari peran sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak utama perekonomian Bali.
Aktivitas pariwisata yang tetap berlangsung turut mendukung kinerja sektor perdagangan, transportasi, akomodasi, serta berbagai sektor jasa lainnya.
Kondisi tersebut berkontribusi dalam menjaga persepsi masyarakat terhadap perekonomian sekaligus menopang prospek kegiatan usaha di Bali.
Dari sisi ekspektasi, optimisme konsumen justru menunjukkan penguatan. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) meningkat dari 128,17 pada Agustus 2026 menjadi 130,33 pada September 2026, atau tumbuh sebesar 1,69% secara bulanan (month-to-month/mtm).
Peningkatan ini terutama didukung oleh komponen perkiraan penghasilan sebesar 129,00, perkiraan ketersediaan lapangan kerja sebesar 130,50, dan perkiraan kegiatan usaha sebesar 131,50.
Capaian tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat masih memandang prospek ekonomi dalam enam bulan mendatang secara positif, khususnya terkait pendapatan, kesempatan kerja, dan perkembangan dunia usaha.
Di sisi lain, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) mengalami penurunan dari 118,00 pada Agustus 2026 menjadi 115,17 pada September 2026, atau turun sebesar 2,40% (mtm).
Moderasi ini tercermin pada persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya, dengan indeks sebesar 123,00; penghasilan saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya sebesar 122,00; serta konsumsi barang tahan lama saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya sebesar 100,50.
Penurunan IKE tersebut menjadi faktor utama yang memengaruhi pelemahan IKK secara keseluruhan. Meski demikian, IKK Bali yang tetap berada pada level optimistis, disertai peningkatan IEK, menunjukkan bahwa persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini mengalami moderasi, sementara keyakinan terhadap prospek ekonomi ke depan tetap menguat.
Perkembangan ini berlangsung di tengah normalisasi aktivitas ekonomi setelah periode puncak kunjungan wisatawan pada Agustus 2026. Dalam kondisi tersebut, penguatan ekspektasi konsumen menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan konsumsi rumah tangga dan aktivitas usaha di Bali.
Namun, momentum optimisme tersebut perlu terus dijaga melalui penguatan daya beli masyarakat dan stabilitas harga.
Hal ini menjadi semakin penting dengan inflasi Bali pada September 2026 yang tercatat sebesar 3,79% secara tahunan (year-on-year/yoy), sedikit di atas rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5% ± 1%.
Tekanan harga yang berkelanjutan berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat sehingga pengendalian inflasi dan penguatan aktivitas ekonomi perlu berjalan beriringan untuk menjaga keberlanjutan konsumsi rumah tangga sebagai salah satu sumber utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam rangka menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TPPED) serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota se-Bali.
Upaya tersebut diwujudkan melalui berbagai langkah pengendalian inflasi, antara lain pelaksanaan operasi pasar, penguatan pemantauan harga komoditas strategis, serta peningkatan kelancaran distribusi pangan.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia secara konsisten mengarahkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sinergi kebijakan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia diharapkan dapat memperkuat daya beli masyarakat, menjaga kepercayaan konsumen, serta mendorong aktivitas ekonomi yang produktif.
Dengan prospek penghasilan, kesempatan kerja, dan kegiatan usaha yang tetap positif, optimisme konsumen Bali diharapkan terus terjaga. Didukung pengendalian inflasi dan penguatan sinergi kebijakan, kondisi tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya tahan. (Rls)





