Kresna Budi : Perlu Adanya Dekolonisasi Pengunjung yang Datang ke Bali yaitu Arahkan ke Nusa Dua

Share

DENPASAR, Lintasbali.com – Tidak ada yang bisa menebak kapan pandemi covid-19 ini berakhir. Seluruh dunia juga tidak bisa menjawab kapan wabah ini selesai. Pandemi ini sudah menelan jutaan korban jiwa. Segala upaya sudah dilakukan oleh Pemerintah dari seluruh Negara di Dunia. Hingga pada akhirnya beberapa Negara sudah mulai menyuntikan vaksin kepada masyarakatnya.

Dampak dari pandemi ini sudah tentu terpuruknya perekonomian dan pariwisata di seluruh dunia. Tidak terkecuali Indonesia dan Bali pada khususnya. Segala macam upaya dan usaha sudah dilakukan demi membaiknya kembali perekonomian dan pariwisata di Bali.

Seluruh wisatawan yang datang ke Bali, kita pusatkan dulu di Nusa Dua. Terdapat puluhan hotel dan villa. Ada lebih dari sepuluh ribu kamar dan dua puluh dua ribu orang karyawan yang bekerja disana. Nusa Dua daerah aman. Akses masuk melewati tiga pintu pemeriksaan.

Hal tersebut disampaikan IGK. Kresna Budi, Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bali saat ditemui di ruangannya di Kantor DPRD Provinsi Bali, Rabu (20/1/2021).

IGK. Kresna Budi, Ketua Komisi II DPRD Bali

“Jadi wisatawan yang datang ke Bali mudah diawasi karena terpusat di Nusa Dua. Sehingga perekonomian disekitar Nusa Dua bisa bergairah lagi,” kata Kresna Budi yang juga Ketua DPD Golkar Kabupaten Buleleng.

Menurut Kresna Budi, kawasan Nusa Dua itu sangat lengkap. Ada tiga pintu masuk Nusa Dua. Puluhan hotel dengan fasilitas dan standar protokol kesehatan yang ketat, dekatnya Rumah Sakit dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sangat dekat sekitar 10 menit dari Nusa Dua.

Lebih lanjut Kresna Budi mengatakan, jika semua itu sudah dipusatkan di Nusa Dua, semua penopang pariwisata di sekitarnya hidup. Mulai dari warung, kos-kosan hingga sopir angkutan merasakan lagi perekonomian ini.

BACA JUGA:  Wakil Gubernur Bali Dorong HFLA Bali Cetak SDM Unggul Di Bidang Front Liners

Selama ini wisatawan domestik yang datang ke Bali, kita tidak ketahui persebarannya. Pihaknya menginginkan terpusatkan di Nusa Dua. Secara bertahap daerah wisata lainnya akan dibuka tentu tetap menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.

Untuk meningkatkan citra pariwisata di Bali, tentu sangat berkaitan dengan anggaran yang ada di Dinas Pariwisata baik di Provinsi Bali maupun Kabupaten/Kota di Bali. Apa yang mau dibuat dan dirancang untuk perbaikan pariwisata harus ditopang dengan anggaran.

Kresna Budi menambahkan, kedepannya pemerintah pusat harus kembali mengadakan kerjasama dengan pemerintah China. Langkah-langkah strategis perlu dilakukan lagi antar kedua negara.

“Wisatawan China yang ingin datang berlibur ke Indonesia dan Bali pada khususnya syaratnya harus sudah divaksin dan membawa surat swab negatif,” pungkasnya. (AR)

error: STOP!! Silahkan kontak redaksi Lintasbali.com untuk keperluan penggunaan berita!