DENPASAR, lintasbali.com – Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1947 menjadi momentum sakral bagi umat Hindu di Bali untuk melakukan introspeksi diri. Melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan masyarakat diajak untuk berhenti sejenak dari aktivitas duniawi dan merenungkan perjalanan hidup selama setahun terakhir.
Bagi banyak masyarakat Bali, Nyepi bukan sekadar hari tanpa aktivitas, tetapi juga waktu untuk menata kembali pikiran, sikap, dan tindakan agar menjadi pribadi yang lebih baik, sekaligus memberikan kontribusi positif bagi Pulau Dewata.
Ketua Indonesian Chef Association (ICA) BPC Badung, Chef Made Suarsa, memaknai Hari Raya Nyepi sebagai waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam pekerjaan.
Chef Made Suarsa yang juga merupakan pengusaha asal Kedonganan, Jimbaran, Badung ini mengatakan bahwa makna Nyepi sangat relevan bagi semua kalangan, termasuk para pelaku usaha dan pekerja di bidang kuliner.
“Nyepi adalah momen untuk berhenti sejenak dari kesibukan. Kita diajak melihat kembali apa yang sudah kita lakukan selama ini, apakah sudah memberi manfaat bagi orang lain, keluarga, dan lingkungan sekitar,” kata Suarsa saat dikonfirmasi Senin, 9 Maret 2026.
Pemilik usaha bakery Ayu Bakery ini menambahkan bahwa introspeksi diri sangat penting agar ke depan dapat bekerja dan berkarya dengan lebih baik.
Menurutnya, nilai-nilai Nyepi dapat menjadi pengingat untuk selalu menjaga keseimbangan hidup.
Chef Made Suarsa sendiri memiliki pengalaman panjang di dunia kuliner. Ia pernah bekerja di sejumlah hotel berbintang di Bali seperti Bali Dynasty Resort, Bali Imperial, Sofitel Seminyak dan Rito Continental Gourmet Adelaide Australia.
Pengalaman tersebut membentuk karakter kerja yang disiplin dan profesional, sekaligus memperkuat komitmennya untuk terus berkontribusi bagi perkembangan dunia kuliner di Bali.
Sebagai Ketua ICA BPC Badung, ia juga aktif mendorong para chef dan pelaku kuliner untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus mengangkat kekayaan kuliner lokal Bali agar semakin dikenal luas.
Menurutnya, semangat introspeksi dalam Hari Raya Nyepi juga dapat diterapkan dalam dunia usaha. Para pelaku usaha diajak untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan, memperbaiki kekurangan, serta menciptakan usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kalau setiap orang melakukan introspeksi diri dan berusaha menjadi lebih baik, saya yakin Bali juga akan menjadi lebih baik ke depannya,” katanya.
Ia berharap momentum Nyepi Tahun Baru Caka 1947 dapat dimaknai oleh seluruh masyarakat Bali sebagai waktu untuk memperkuat nilai kebersamaan, menjaga keharmonisan dengan alam, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
“Semoga setelah Nyepi, kita semua bisa memulai lembaran baru dengan pikiran yang lebih jernih, hati yang lebih tenang, dan semangat untuk berbuat lebih baik bagi Bali,” pungkasnya. (LB)





