Pendidikan

Menjaga Akurasi di Tengah Kecepatan: Tantangan Jurnalisme di Era Digital

DENPASAR, lintasbali.com – Arus informasi di era digital bergerak semakin cepat, namun tidak selalu diiringi dengan ketepatan. Di tengah maraknya berita real-time dan konten viral, masyarakat dihadapkan pada tantangan baru: membedakan informasi yang akurat dari yang berpotensi menyesatkan.

Fenomena ini muncul seiring meningkatnya tekanan pada media untuk menjadi yang pertama dalam menyampaikan berita. Kecepatan publikasi kerap menjadi prioritas utama, namun di sisi lain berisiko mengurangi proses verifikasi yang seharusnya menjadi fondasi utama jurnalisme. Akibatnya, informasi yang belum terkonfirmasi dapat tersebar luas dalam waktu singkat.

Dampak dari penyebaran informasi yang tidak terverifikasi pun tidak bisa dianggap remeh. Mulai dari kesalahpahaman publik, kepanikan sosial, hingga pengambilan keputusan yang kurang tepat, semuanya dapat terjadi akibat informasi yang tidak akurat. Oleh karena itu, menjaga kualitas informasi bukan hanya menjadi tanggung jawab jurnalis, tetapi juga masyarakat sebagai konsumen sekaligus penyebar informasi.

Seiring perkembangan teknologi, penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin marak dalam produksi dan distribusi berita. Teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi dan kecepatan kerja, namun tetap memerlukan pengawasan manusia untuk memastikan akurasi serta menghindari bias informasi.

Dalam kegiatan Journalism Short Courses LSPR Bali sesi kedua, narasumber I Made Maha Dwija Santya, S.E., M.M. menegaskan bahwa tanggung jawab tetap menjadi prinsip utama dalam jurnalisme.

“Jurnalisme bukan soal siapa yang paling cepat menekan tombol publish, tetapi siapa yang paling bertanggung jawab atas setiap kata yang ditayangkan, bahkan di era kecepatan sekalipun,” ujarnya.

Peningkatan literasi media menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi. Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima pasif, tetapi juga mampu menyaring serta menyebarkan informasi yang benar dan kredibel.

BACA JUGA:  Cok Istri Mirah : Setiap Orang Menjadi Guru, Setiap Rumah Menjadi Sekolah

Sebagai bagian dari upaya tersebut, kegiatan Journalism Short Courses yang diselenggarakan oleh LSPR Institute of Communication and Business Bali mengangkat tema “Speed vs Accuracy in Digital Journalism”. Kegiatan ini membahas bagaimana menjaga keseimbangan antara kecepatan dan akurasi dalam praktik jurnalistik di era digital.

Executive Director LSPR Bali, Ms. Gesille Sedra Buot, menyampaikan bahwa pemahaman terhadap proses produksi berita sangat penting bagi masyarakat. “Melalui pemahaman yang lebih baik tentang proses di balik produksi berita, diharapkan masyarakat dapat menjadi lebih bijak dalam mengonsumsi informasi serta turut menjaga kualitas ruang publik digital yang sehat, kredibel, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

LSPR Institute of Communication and Business Bali, yang berdiri sejak 2015, merupakan perguruan tinggi swasta yang menyelenggarakan program sarjana ilmu komunikasi dengan metode blended learning dan e-learning. Program sarjana di LSPR Institute Bali berada di bawah Fakultas Ilmu Komunikasi dengan tiga konsentrasi, yaitu Global Digital Public Relations, Global Marketing Communication, serta International Relations and Global Communication.

Saat ini, LSPR Institute Bali memiliki sekitar 1.807 mahasiswa yang mengikuti program e-learning dan blended learning. Berdasarkan data LSPR Career Centre, tingkat serapan lulusan di dunia kerja mencapai 95 persen. Selain menyelenggarakan seminar dan pelatihan, LSPR Career Centre juga menyediakan informasi lowongan pekerjaan serta membantu penyaluran alumni ke berbagai bidang, baik di dalam maupun luar negeri.

LSPR Institute Bali juga telah menjalin kerja sama dengan berbagai instansi di Bali, termasuk jaringan hotel yang tergabung dalam Marriott International Group. Selain itu, kampus ini menjadi sekretariat bagi sejumlah organisasi, seperti DPP Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA), BPC Perhumas Denpasar Bali, dan ASEAN PR Network.

BACA JUGA:  DJP Bali Edukasi Pelaku UMKM Difabel Yayasan Cahaya Mutiara

Dengan berbagai inisiatif tersebut, LSPR Institute Bali berupaya tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan ekosistem informasi yang lebih sehat dan bertanggung jawab di era digital. (Rls)

Post ADS 1