DENPASAR, lintasbali.com – Konsentrasi publik berfokus pada apa yang diwacanakan, menjadi bola liar dan menggerus atensi ke arah yang semakin ambigu berkepanjangan. Masalah utama saat ini di Bali justru hampir terlupakan, yaitu mitigasi terkait kepariwisataan yang dalam beberapa waktu ini menjadi sorotan, seperti penanganan sampah, kemacetan lalu lintas, ancaman degradasi mental masyarakat hingga ke gangguan ketertiban umum di bidang kependudukan.
Hal tersebut demikian disampaikan oleh Ketut Swabawa seorang praktisi pariwisata melalui sambungan telpon pada Senin, 12 Januari 2026 di Denpasar.
“Kami merasakan belum adanya langkah konkrit dan strategis yang diambil oleh pihak regulator terkait permasalahan-permasalahan utama tersebut di atas. Sebagai daerah yang bertumpu pada sektor unggulan pariwisata, Bali ibaratnya dalam posisi stagnan yang ditunggu gebrakannya oleh dunia internasional untuk mengembalikan kepercayaan publik. Sampah dan kemacetan belum menunjukkan titik terang solusinya” ungkap Swabawa.
Isu pemerintah akan menerapkan jumlah saldo rekening bank wisman yang datang ke Bali dianggapnya tidak tepat dan tidak relevan dengan kebijakan visa yang telah diterapkan selama ini.
“Indonesia telah menerapkan kebijakan bebas visa dan visa on arrival untuk wisman, jadi tidak mungkin kita mengecek saldo uang mereka dan melarangnya masuk ke Bali. Ini bukannya bertolakbelakang dengan kebijakan pusat ya? Yang urgent saat ini adalah perbaiki kualitas destinasi, tata kelola hingga pada komitmen bersama menguatkan konsep pariwisata budaya kita,” imbuhnya.
Selain itu dirinya juga mengingatkan bahwa Bali dan Bintan masuk dalam program Revitalisasi dalam destinasi kepariwisataan Indonesia sejak beberapa tahun lalu. Namun hal mendasar menyangkut Sadar Wisata dan Sapta Pesona sama sekali belum tersentuh untuk digarap sebagai bentuk revitalisasi modal dasar sosial tersebut yang telah muncul sejak tahun 1989 silam.
“Maksudnya bukan pelatihan mengulang terus, namun formula yang diadaptasikan pada era saat ini, ditengah tingginya pengaruh digital dan perubahan perilaku masyarakat. Semua berfokus pada promosi meningkatkan kunjungan wisatawan, lupa bahwa pariwisata bukan menyangkut usaha dan aktifitas wisata saja namun destinasi yang menjadi domainnya dan masyarakat serta sektor lainnya ada di dalam destinasi tersebut”, papar Ketua Umum DPP AHLI ini.
Terkait masalah turunnya kunjungan wisnus ke Bali belakangan ini, dirinya menanggapi bahwa Bali telah kembali pada market segment pada kondisi sebelum pandemi.
“Kita di Bali memang seperti belajar kembali menggarap market domestik saat itu, awalnya kan memang wisdom rendah ya jumlahnya ke Bali dan wisman yang mendominasi. Saat pandemi kita mulai menggarap wisdom dengan serius karena hanya market itu yang ada saat itu. Sehingga berhasil meningkatkan kunjungannya, dan kita tidak pernah membedakan kualitas layanan antara wisman dan wisdom. Ada perilaku wisatawan juga yang mempengaruhinya tentunya. Jadi jangan terlalu khawatir, fokus saja pada kualitas destinasi agar seperti dulu, maka Bali akan kembali diminati”, pungkasnya. (LB)




