Pariwisata & Budaya

“NEW NORMAL TOURISM” Menurut Para Ahli Perhotelan

Denpasar, Lintasbali.com – Kondisi saat ini kita perhatikan dapat terasa semakin bergairahnya kembali industri pariwisata seiring adanya pandangan “hidup damai dan berdampingan dengan COVID-19”.

Berbagai aktifitas terkait persiapan reopening destinasi banyak dilakukan, baik secara individual di unit usaha masing-masing berupa general cleaning, pelatihan standar kerja baru sesuai protokol kesehatan hingga peluncuran promosi paket berlibur. Dan juga secara kolektif dalam bentuk kegiatan asosiasi dalam menyamakan persepsi tentang new normal tourism, pelaksanaan verifikasi kesiapan industri pariwisata dan sebagainya.

Sehubungan dengan hal tersebut, LintasBali.com tertarik untuk menghubungi beberapa para tokoh dan ahli di industri perhotelan demi mendapatkan informasi dan pendapatnya tentang ‘new normal tourism’.

Secara marathon kami menghubungi I Nyoman Astama, SE.,MM.,CHA (Ketua DPD IHGMA Bali), I Made Ramia Adnyana, SE.,MM.,CHA (Wakil Ketua Umum DPP IHGMA dan Wakil Ketua I DPD IHGMA Bali) serta Ketut Swabawa, CHA (Wakil Ketua II DPD IHGMA Bali). Dari ketiga tokoh ini kami mintakan pandangannya dari berbagai aspek dan berikut petikannya :

I Nyoman Astama, SE.,MM.,CHA, Ketua DPD IHGMA Bali, Founder and Managing Director NUSA Hospitality, Managing Director Pacific Holidays DMC, Honorary Consul Republic of Ukraine for Indonesia (Bali Office).

New normal adalah tatanan kehidupan baru yang menjadi suatu kebiasaan karena adanya keadaan memaksa yang mengharuskan kita untuk beradaptasi dengan kondisi baru tersebut. Begitu juga dalam pariwisata Bali yang stagnan selama 4 bulan terakhir, untuk bisa direaktivasi maka kegiatan pariwisata harus mengadopsi pola new normal ini dan beradaptasi dengan perubahan prilaku dan kebutuhan pelanggan.

New normal tourism bukan berarti produk pariwisata yang berubah menjadi hal baru, namun penampilan baru tersebut diwujudkan dalam bentuk kemampuan manajemen untuk melakukan improvisasi sehingga mampu menjamin kepuasan wisatawan seiring customer behavior change terkait pola hidup bersih dan sehat tentunya.

BACA JUGA:  Gelar JCD, PHRI Jembrana Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan

Sebelum kawasan wisata diaktivasi kembali perlu dilakukan pengecekan atau verifikasi kesiapan yang memenuhi standar protokol kesehatan sesuai yang direkomendasikan oleh badan otoritas berwenang baik nasional Gugus Tugas COVID-19 maupun internasional seperti WHO dan WTTC.

Kunci utama untuk mencegah klaster baru adalah disiplin masyarakat mengikuti protokol CHS seperti selalu cuci tangan pakai sabun atau menggunakan hand sanitizer, memakai masker wajah, menjaga jarak aman, hindari kerumunan, menjaga imunitas tubuh.

Untuk mengurangi penyebaran virus selain melakukan pengetesan masal secara masif juga melakukan tracing terhadap orang yang pernah kontak dengan pasien positif COVID-19. Setelah kegiatan ekonomi (pariwisata) diaktifkan kembali, yang tidak kalah penting adalah konsistensi pelaksanaan program CHS tersebut baik oleh masyarakat, perusahaan, pelanggan dan pekerja.

Dr.(Cand) I Made Ramia Adnyana, SE.,MM.,CHA, Waketum DPP IHGMA dan Waka I DPD IHGMA Bali, Wakil Ketua Bidang Humas dan Komunikasi PHRI BPC Badung, President Director H Hotels and Resort, General Manager H Sovereign Bali.

New Normal Tourism harus menghadirkan suatu konsep pengelolaan yang mampu mengkombinasikan aspek pelayanan prima dengan standar protokol kesehatan. Hal ini dipicu oleh terjadinya wabah COVID-19 yaitu penyakit model baru yang ada di dunia. Bahkan penghentian dan pengobatannya secara ilmu kesehatan belum dapat dipastikan saat ini.

Hal ini menimbulkan ambigu yang luar biasa di kalangan umat manusia serta menciptakan kekhwatiran yang berlebihan ketika merencanakan pergi berlibur. Industri pariwisata di setiap wilayah belahan dunia wajib melakukan hal-hal yang konkrit dan strategis agar mampu meyakinkan traveller bahwa tersedianya jaminan dalam bentuk penanganan pencegahan penyebaran virus ini. S

Sistem verifikasi adalah langkah yang tepat dilakukan oleh pemerintah untuk memastikan bahwa panduan yang ditetapkan telah diterapkan secara konsisten di lapangan dan setiap unit usaha.Verifikasi bertujuan untuk mengecek dan menguji bahwa protokol kesehatan dipastikan diterapkan dalam bisnis berbentul produk dan layanan, yaitu meliputi product presences (penampilan produk), service quality (kualitas layanan) dan management system (sistem tata kelola).

BACA JUGA:  Membanggakan, Wakil Bali Raih 2 Penghargaan Dalam FDWN2021

Selain pengecekan langsung di lapangan untuk membuktikan telah adanya penerapan standar dimaksud, tim verifikasi juga harus mengambil dokumentasi pendukung standar dan prosedur yang dimiliki tempat usaha sebagai wujud keseriusan pengelola dalam menyiapkan tempat usahanya menuju new normal tourism.

New normal akan benar-benar menjadi budaya baru bagi masyarakat dunia, untuk itu peluncurannya jangan hanya sekedar ditampilkan ketika verifikasi dilaksanakan. Oleh sebab itu penerima sertifikat berdasar hasil verifikasi kesiapan tersebut diwajibkan membuat pakta integritas yang intinya pelaku usaha berjanji untuk melaksanakan standar baru tersebut secara konsisten dan siap menerima sanksi dari pemerintah sesuai peraturan yang berlaku jika di kemudian hari ditemukan adanya pelanggaran dan/atau penyimpangan atas komitmen yang telah disampaikan kepada tim verifikasi.

I Ketut Swabawa,CHA, Waka II DPD IHGMA Bali, Wakil Ketua Bidang Organisasi PHRI BPC Badung, President Director Stanagiri Management International, Director Swaha Hospitality Bali.

Sumber daya manusia memiliki peranan sangat penting dalam menghadapi dan menjalankan pola new normal tourism ke depannya. Tuntutan atas kompetensi tidak saja fokus pada hal-hal yang bersifat teknis, karena hal itu sudah dimiliki sebelumnya sejak karyawan telah dikonfirmasi dalam jabatan tertentu pada suatu perusahaan. Melainkan juga pada aspek kognitif dan inter personal. Artinya, new normal tourism adalah lahan dimana SDM dapat menampilkan kreatifitas yang semakin tinggi dengan terobosan yang inovatif.

Khusus pada dunia perhotelan, karyawan di sektor bisnis ini sejak dahulu telah dikenal sebagai pekerja yang multi talenta serta tangguh. Dasarnya kita bisa lihat dari sistem operasional hotel yang non stop 24 jam dan 7 hari seminggu. Setiap karyawan tidak hanya paham sistem kerja pada divisinya secara teknis namun juga aspek lainnya seperti biaya, kualitas, dampak, hubungan dengan pelanggan serta tata kelola yang terlihat dari berbagai jenis SOP yang ada untuk mendukung job description setiap posisi / jabatan.

BACA JUGA:  PENTAS KESENIAN BALI DI HOTEL HARUS TERSTANDARISASI ?

Untuk itu, new normal tourism bagi industri perhotelan tetap merupakan sesuatu yang bersifat adaptasi yaitu menyesuaikan dengan perkembangan dan dinamika yang terjadi. Bagusnya, perubahan tersebut terjadi menyeluruh di dunia jadi tidak akan menjadi hal yang aneh ketika kita pakai contoh seperti seorang karyawan saat ini harus bekerja menggunakan masker.

Inilah yang disebut sebagai resilience hotelier, karyawan hotel itu kuat dan lentur bukan kuat dan kaku. Selalu dapat menyesuaikan dirinya terhadap perubahan karena sikap multi talenta telah menjadi sesuatu yang mendasar pada pribadi hotelier.

Bagi SDM yang visioner, new normal adalah sebuah peluang strategis. Peluang untuk mempelajari hal baru hingga mencapai posisi baru , tentunya dengan kesejahteraan yang lebih meningkat. Mereka bisa berkreasi dengan kerja sampingan tanpa mengganggu kerja atau profesi utama, karena budaya kerja secara online yang tumbuh menjamur saat ini (berjualan, pelatihan online, dan sebagainya).

Post ADS 1