DENPASAR, lintasbali.com – Parade Ogoh-ogoh “Sanur Metangi 2026” sukses digelar di Pantai Mertasari, Sanur, Kamis, 12 Maret 2026 dengan menampilkan 20 karya kreatif dari 20 Banjar di wilayah Sanur. Parade Ogoh-ogoh Sanur Metangi 2026 dihadiri langsung Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar dan pejabat lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wawali Denpasar Arya Wibawa menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh Pemerintah Kota Denpasar terhadap penyelenggaraan festival budaya tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya memperkuat tradisi budaya Bali, tetapi juga menjadi daya tarik wisata bagi kawasan Sanur.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini dan siap mendukung kelancarannya, baik dari sisi keamanan, kenyamanan, maupun penataan lingkungan. Festival seperti ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Sanur,” ujarnya.
Ia menambahkan, konsep Sanur Metangi 2026 dinilai mampu menjadi ruang kreatif bagi generasi muda sekaligus mempererat kebersamaan antar pemuda di wilayah Sanur.
“Selain memperkuat kebersamaan anak-anak muda, kegiatan ini juga menjadi wadah kreativitas generasi muda untuk belajar dan berkarya dalam kegiatan yang positif. Terlebih Sanur merupakan kawasan pariwisata, sehingga generasi mudanya diharapkan terus kreatif dalam merancang kegiatan budaya,” katanya.
Ketua Panitia Festival Ogoh-Ogoh Sanur Metangi, Ida Bagus Prajiskana Jisnu, menjelaskan bahwa pada puncak acara digelar parade ogoh-ogoh yang menampilkan 20 karya terbaik hasil seleksi.
Ia menyebutkan, dari total 29 banjar yang ada di Sanur, sebanyak 27 banjar berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan. Setelah melalui proses seleksi oleh lima juri independen dari luar Sanur, terpilih 20 banjar yang masuk nominasi untuk tampil dalam parade utama.
“Dari 20 finalis tersebut, enam banjar berasal dari Desa Dinas Sanur Kaja, enam banjar dari Kelurahan Sanur, dan delapan banjar dari Sanur Kauh yang memang memiliki jumlah banjar lebih banyak,” jelasnya.
Parade puncak berlangsung di kawasan Stock File Pantai Mertasari mulai pukul 16.00 WITA dan ditargetkan selesai sebelum pukul 23.00 WITA. Setiap banjar mendapat waktu sekitar 8–10 menit untuk menampilkan ogoh-ogoh yang diiringi fragmen tari dan tabuh baleganjur.
Sebelumnya, panitia juga menggelar sejumlah kegiatan pendukung, seperti lomba ogoh-ogoh mini dan tapel serta talkshow sejarah Sanur yang menghadirkan tokoh-tokoh yang memahami perkembangan Sanur dari masa lalu hingga menjadi destinasi wisata unggulan saat ini.
Menurut Prajiskana, tujuan utama kegiatan ini adalah membangun semangat kompetisi yang sehat di kalangan pemuda.
“Kami ingin membuktikan bahwa kompetisi tidak harus identik dengan keributan. Kalah atau menang itu hal biasa, yang terpenting adalah kebersamaan karena ini tentang Sanur,” tegasnya.
Panitia menyiapkan total hadiah sekitar Rp50 juta yang dibagi dalam beberapa kategori juara. Sistem penilaian juga dipisahkan antara kategori ogoh-ogoh serta fragmen dan baleganjur.
Ditemui ditempat yang sama, Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, Ida Bagus Gde Sidharta Putra, menyatakan pihaknya selalu mendukung berbagai kegiatan masyarakat, baik yang berkaitan dengan kepemudaan, pariwisata, maupun kegiatan sosial.
Menurutnya, parade ogoh-ogoh ini memiliki nilai penting dalam mendorong kreativitas generasi muda sekaligus memperkenalkan seni budaya Bali kepada masyarakat luas.
“Dalam parade ini terdapat berbagai unsur seni, mulai dari seni patung dalam pembuatan ogoh-ogoh, seni tabuh sebagai pengiring, seni tari dalam fragmen, hingga seni busana dan karawitan,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu juri, I Wayan Gede Miasa yang dikenal sebagai Ceng-Ceng Biru, menjelaskan bahwa penilaian ogoh-ogoh didasarkan pada beberapa kriteria utama.
Menurutnya, aspek sinopsis yang meliputi konsep dan gagasan karya memiliki bobot 20 persen. Aspek anatomi, karakter, serta ekspresi wajah ogoh-ogoh menjadi penilaian terbesar dengan bobot 40 persen.
“Karena ini merupakan karya kriya, maka bentuk anatomi, karakter, dan ekspresi menjadi penilaian paling tinggi,” jelasnya.
Selain itu, komposisi karya dinilai dengan bobot 20 persen yang mencakup penempatan karakter dan tata visual. Sementara 20 persen lainnya berasal dari keserasian dan keharmonisan karya, termasuk busana, ornamen pendukung, serta pewarnaan.
Ia menilai karya ogoh-ogoh yang ditampilkan pemuda Sanur tahun ini menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Beberapa karya bahkan menampilkan unsur klasik yang diadaptasi dari pakem lama namun dikemas dengan inovasi baru.
Menurunya, ogoh-ogoh tidak hanya dinilai dari bentuk visual, tetapi juga dari unsur pertunjukan saat diusung dan dipentaskan bersama fragmen tari.
“Jika ogoh-ogoh hanya dipajang, itu menjadi seni instalasi. Ogoh-ogoh sebenarnya satu paket dengan pertunjukan ketika diusung dan ditarikan,” katanya. (LB)





