DENPASAR, Lintasbali.com – Lonjakan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah belakangan ini dinilai tidak sepenuhnya menjadi ancaman bagi industri pariwisata Bali. Kondisi tersebut justru bisa menjadi momentum strategis untuk meningkatkan pendapatan sektor pariwisata sekaligus memperkuat penggunaan produk lokal.
General Manager Grand Istana Rama Hotel – Kuta, Ketut Darmayasa, mengatakan pelemahan rupiah harus disikapi secara cerdas dan adaptif oleh para pelaku usaha wisata.
“Kita harus fokus meningkatkan revenue (pendapatan) dan mulai beralih menggunakan produk-produk lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap barang impor,” ujar Ketut Darmayasa, Senin, 19 Mei 2026.
Dorong Wisata Berbasis Pengalaman
Menurutnya, ada sejumlah langkah strategis yang perlu segera dioptimalkan agar industri pariwisata Bali tetap kompetitif di tengah dinamika ekonomi global.
Salah satu yang paling penting adalah memperkuat konsep experiential tourism atau wisata berbasis pengalaman. Wisatawan mancanegara saat ini dinilai tidak lagi hanya mencari kemewahan fasilitas, tetapi juga pengalaman autentik yang menyentuh budaya lokal.
“Bali memiliki kekuatan besar pada budaya, tradisi, keramahan masyarakat, hingga pengalaman spiritual dan petualangan alam. Nilai inilah yang harus dijual,” imbuhnya.
Selain itu, pelaku usaha juga diminta lebih disiplin dalam melakukan efisiensi energi dan pengelolaan operasional. Potensi kenaikan biaya akibat tekanan ekonomi global harus diantisipasi melalui manajemen keuangan yang lebih ketat dan penggunaan sumber daya secara bijak.
Ketut Darmayasa juga mengingatkan agar pelaku usaha tidak terjebak dalam perang harga demi menarik wisatawan.
“Menurunkan tarif secara berlebihan bukan solusi jangka panjang. Kualitas pelayanan harus tetap menjadi prioritas agar citra pariwisata Bali tetap terjaga,” tegasnya.
Lonjakan Wisatawan Perlu Diantisipasi
Di sisi lain, melemahnya rupiah berpotensi membuat Bali semakin menarik bagi wisatawan asing karena biaya liburan menjadi relatif lebih murah. Namun, kondisi itu juga dapat memunculkan dampak turunan jika tidak dikelola dengan baik.
Ketut Darmayasa mengingatkan bahwa lonjakan jumlah wisatawan tanpa kontrol dapat memperparah persoalan klasik yang selama ini dihadapi Bali, seperti kemacetan, penumpukan sampah, hingga penurunan kualitas layanan.
“Hubungan bisnis memang bisa meningkat, tetapi potensi penumpukan sampah akan bertambah, kemacetan makin parah, dan kualitas pelayanan bisa menurun jika tidak diantisipasi,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas destinasi wisata. Keuntungan jangka pendek, menurutnya, tidak boleh mengorbankan reputasi jangka panjang pariwisata Bali.
“Jangan sampai euforia peningkatan kunjungan wisatawan justru menurunkan kualitas pariwisata kita sendiri. Pelayanan dan keberlanjutan harus tetap dijaga,” pungkasnya. (Rls)





