DENPASAR, lintasbali.com – Semangat kebersamaan pemuda kembali menggeliat di kawasan Sanur melalui gelaran Parade Ogoh-Ogoh bertajuk Sanur Metangi 2026 yang akan berlangsung pada 11–12 Maret 2026 di kawasan Pantai Mertasari, Sanur.
Setelah sempat vakum hampir satu dekade, ajang kreativitas dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi ini kembali hadir dengan mengusung tema “Samuhita”, yang bermakna menyatukan berbagai elemen menjadi satu kesatuan.
Ketua Panitia Parade Ogoh-Ogoh Sanur Metangi, Ida Bagus Prajiskana Jisnu, menjelaskan bahwa tema Samuhita dipilih sebagai simbol persatuan pemuda lintas banjar di Sanur agar kembali bergandengan tangan dalam satu panggung budaya.

Ketua Panitia Parade Ogoh-Ogoh Sanur Metangi, Ida Bagus Prajiskana Jisnu
“Ini bukan sekadar lomba, tetapi ajang menyatukan. Kami ingin menunjukkan bahwa pemuda Sanur bisa kompak dan bersama-sama menjaga tradisi,” ujarnya.
Kegiatan ini berada di bawah naungan Yayasan Pembangunan Sanur dengan dukungan berbagai unsur masyarakat, antara lain Desa Adat Intaran, Desa Adat Sanur, Desa Adat Penyaringan, Desa Sanur Kaja, Kelurahan Sanur, Desa Sanur Kauh, Sabha Yowana Sanur, Sabha Yowana Intaran, Karang Taruna Sanur Kaja, Karang Taruna Sanur Kauh, serta Kelurahan Sanur.
Sebelum parade puncak pada 12 Maret 2026, panitia telah menggelar proses penilaian awal pada 1 Maret 2026. Dari total 29 banjar di wilayah Sanur, sebanyak 27 banjar berpartisipasi, sementara dua banjar lainnya berhalangan ikut serta.
Melalui seleksi yang dilakukan oleh lima juri independen dari luar Sanur, terpilih 20 banjar yang masuk nominasi untuk tampil pada parade utama.
Penilaian awal dilakukan sejak pukul 10.00 Wita hingga malam hari, dengan mendatangi langsung banjar-banjar peserta. Hasil penilaian kemudian diumumkan melalui sidang pleno dan berita acara pada hari yang sama.
Dari 20 banjar finalis tersebut, komposisi wilayah terdiri dari enam banjar dari Desa Dinas Sanur Kaja, enam banjar dari Kelurahan Sanur, serta delapan banjar dari Sanur Kauh, yang memang memiliki jumlah banjar lebih banyak.
Parade puncak dijadwalkan berlangsung pada 12 Maret 2026 di kawasan Stock File Pantai Mertasari. Sehari sebelumnya, pada 11 Maret, panitia juga menggelar sejumlah kegiatan pendukung, seperti lomba ogoh-ogoh mini dan tapel, serta talkshow sejarah Sanur yang menghadirkan tokoh-tokoh yang memahami perkembangan Sanur dari masa lalu hingga kini sebagai destinasi wisata unggulan.
Pada malam parade, 20 ogoh-ogoh akan tampil sesuai nomor undian. Setiap banjar mendapat waktu 8–10 menit untuk menampilkan ogoh-ogoh lengkap dengan fragmen dramatari dan iringan baleganjur.
Sistem penilaian dibagi menjadi dua kategori, yakni kategori ogoh-ogoh serta kategori fragmen dan baleganjur, sehingga akan ada dua kelompok juara yang diumumkan.
Parade akan dimulai sekitar pukul 16.00 Wita dengan target selesai sebelum pukul 23.00 Wita sesuai ketentuan perizinan. Pengumuman pemenang direncanakan dilakukan menjelang tengah malam setelah seluruh penampilan selesai.
Ida Bagus Prajiskana menegaskan bahwa kegiatan ini juga bertujuan mematahkan stigma bahwa lomba ogoh-ogoh kerap identik dengan keributan.
“Kami ingin membuktikan bahwa kompetisi bisa menjadi ajang memperbaiki diri. Kalah atau menang itu biasa, yang penting tetap kompak karena ini tentang Sanur,” tegasnya.
Panitia menyiapkan total hadiah sekitar Rp50 juta yang akan dibagi dalam beberapa kategori juara. Pendanaan kegiatan berasal dari dukungan desa, yayasan, serta berbagai pihak yang turut mendukung suksesnya penyelenggaraan perdana Sanur Metangi ini.
Untuk menyaksikan parade dari area VVIP, pengunjung dikenakan tiket sebesar Rp350.000, sementara masyarakat umum dapat menonton secara gratis dengan ketentuan tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman dari luar.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, Ida Bagus Gde Sidharta Putra, menegaskan bahwa yayasan selalu mendukung berbagai kegiatan masyarakat, baik di bidang kepemudaan, pariwisata, maupun kegiatan sosial.
Menurutnya, Parade Ogoh-Ogoh Sanur Metangi sarat makna karena mendorong generasi muda untuk terus berkreativitas dalam seni dan budaya Bali.
“Ini juga menjadi sarana memperkenalkan seni budaya Bali kepada masyarakat luas,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa karena parade ini dilombakan, proses penilaian dilakukan secara ketat berdasarkan pakem yang berlaku, mulai dari kostum, aksesori, hingga detail artistik ogoh-ogoh.
“Anak-anak tentu akan melakukan riset, misalnya tentang gelungan bagaimana bentuk dan warnanya sesuai dengan pakem,” jelasnya.
Selain seni patung dalam pembuatan ogoh-ogoh, parade ini juga memadukan berbagai unsur seni lainnya, seperti seni tabuh baleganjur, seni tari dalam fragmen, karawitan, hingga desain busana dan tata artistik.
Gus De menambahkan, parade ogoh-ogoh di Sanur selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
“Tradisi ini bukan hanya ritual budaya, tetapi juga pertunjukan seni yang sangat menarik bagi wisatawan yang datang ke Sanur,” pungkasnya.
Dengan semangat kebersamaan yang diusung melalui tema Samuhita, Sanur Metangi 2026 diharapkan menjadi momentum kebangkitan kreativitas pemuda sekaligus memperkuat citra Sanur sebagai kawasan wisata yang tetap berakar kuat pada tradisi budaya Bali. (LB)





