News Pariwisata & Budaya Seputar Bali

SARASWATI dan BANYUPINARUH – Pembebasan Kebodohan, Penyucian Diri dan Wiweka

DENPASAR, lintasbali.com – Dewi Saraswati adalah seorang Dewi sakti dari Dewa Brahma, yang menguasai ilmu pengetahuan. Beliau digambarkan dengan simbolisasi sebagai seorang Dewi yang sangat cantik. Cantik identik dengan menarik, sehingga umat manusia diharapkan tertarik untuk mempelajari dan mendalami ilmu pengetahuan sehingga bermanfaat dalam mengarungi lautan samudera kehidupan yang penuh suka dan duka.

Beliau disimbolkan mengendarai seekor angsa, membawa lontar, alat musik rebab, dan bunga tunjung (teratai). Kendaraan (wahana) seekor angsa, adalah cerminan kebijaksanaan. Seekor angsa bisa memilih dan memilah dengan baik sumber makanannya walaupun pada tempat yang kotor (berlumpur) sekalipun. Pustaka suci lontar yang bertuliskan aksara suci adalah simbol ilmu pengetahuan suci yang senantiasa harus dijadikan pijakan oleh umat manusia dalam menjalani kehidupan ini.

Pustaka suci yang dimaksudkan adalah kitab Weda, sebagai sumber ilmu pengetahuan. Genitri melambangkan siklus kehidupan yang tiada habis-habisnya. Hal ini juga bermakna bahwa ilmu pengetahuan tidak akan pernah habisnya untuk dipelajari oleh manusia. Dewi Saraswati memegang sebuah alat musik yaitu rebab, menjadi simbol daya tarik dan simbol budaya yang tinggi. Kesenian merupakan alat penghibur di saat pikiran sedang kacau atau dalam kegelapan. Dalam hal ini ilmu pengetahuan dilambangkan sebagai alat musik yang bisa menghibur dikala kegelapan.

Ilmu pengetahuan juga merupakan simbol keindahan dinikmati sepanjang hidup. Bunga teratai, merupakan simbolis kesucian, dimana bunga teratai yang tumbuh dalam lumpur (tanah), dalam air, dan udara adalah bunga yang istimewa. Bunga teratai disebut juga tumbuh pada tiga alam (tri bhuwana), dimana bunga teratai itu sendiri bila mekar tidak basah oleh air tempatnya tumbuh. Hal ini memberi makna kesucian atau terbebas dari kekotoran.

Oleh masyarakat umat Hindu di Bali, hari suci Saraswati dimana ilmu pengetahuan diyakini diturunkan bagi umat manusia beserta anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dalam manifestasinya sebagai Dewa ilmu pengetahuan adalah Dewi Saraswti, dirayakan dalam ritual keagamaan Hindu Bali pada setiap Saniscara (Sabtu) Umanis Wuku Watugunung. Tanpa dasar ilmu pengetahuan maka manusia akan menderita. Kitab suci Weda sangat takut kepada orang yang bodoh dan tidak berpengetahuan. Demikian pada kitab suci Sarasamuccaya sebagai salah satu kita suci Hindu menyebutkan, bahwa manusia jangan sampe terpuruk karena kebodohannya. Oleh karena itu, jangan sekali-sekali menjadi manusia malas dan bodoh. Manusia jenis ini akan menjadi sasaran bagi manusia serakah lainnya. Sloka pada kitab Sarasamuccaya ini memberikan gambaran, bagaimana ilmu pengetahuan itu amat dan sangat penting. Orang bodoh akan menjadi orang dengan kehidupan yang sangat menderita. Kunci dari semua ini, hendaknya manusia harus berpengetahuan, bila tidak berpengetahuan maka dalam menjalani dan mengarungi kehidupan akan menderita selamanya.

Bertepatan pada hari ini Redite Paing Sinta adalah merupakan hari pertama pada siklus kehidupan berdasarkan kalendar Hindu Bali. Masyarakat Hindu Bali, pada siklus pertama ini melakukan penyucian diri, dikenal dengan hari suci Banyupinaruh. Hari yang sangat istimewa dan memiliki makna religius yang sangat tinggi. Pada hari suci Banyupinaruh inilah, dimulai saat pagi hari menjelang sebelum mengawali berbagai kegiatan, umat Hindu datang ke sumber air atau pantai untuk melaksanakan ritual pembersihan diri (melukat). Mengawali perjalanan hidup dengan berpengetahuan, memerlukan kesiapan mental dan ditandai dengan penyucian atau pembersihan diri. Banyupinaruh, berasal dari kata banyu yang berarti air (sumber kehidupan) dan pinaruh dari kata pangeweruh (pengetahuan). Secara filosofi bermakna membersihkan atau menyucikan diri dengan air ilmu pengetahuan, karena memang pikiran yang kotor atau kegelapan hanya bisa dibersihkan dengan pengetahuan suci.

BACA JUGA:  Ida Bagus Wiryawan : Tumpek Landep, Hari Pemujaan Hyang Pasupati Sebagai Simbol Taksu

Tuntunan pada salah satu kitab suci Hindu yaitu kitab Mānawa Dharmaśāstra (Manu Dharmaśāstra)disebutkan pada buku ke-4 (atha caturtho’dhyāyaḥ), yang menguraikan tentang cara-cara yang layak bagi seseorang dalam berusaha menunjang hidupnya sesuai menurut status sosial dan cara mencari sumber kehidupan, pada sloka ke-19 sebagai berikut:

buddhi vṛddhi karāṇyāśu
dhanyāni ca hitāni ca,
nityaṁ sāstrāṇya vekṣeta
nigamāṁś caiva vaidikān

Artinya: Hendaknya ia setiap hari memperdalam ilmu pengetahuan misalnya kesusastraan klasik, kesusastraan kuno, filsafat, ilmu ekonomi, ilmu obat-obatan, astrologi dll, yang dengan cepat akan menumbuhkan kebijaksanaan, mempelajari segala yang mengajarkan bagaimana mendapatkan harta; segala yang berguna untuk hidup keduniawian dan demikian pula mempelajari Nigama yang memberi keterangan-keterangan Weda.

Uraian sloka ini memberikan gambaran bahwa mencari bekal hidup adalah dengan memperdalam ilmu pengetahun, sesuai dengan bidang dan kemampuannya. Tiada waktu untuk berhenti dan merasa puas dengan yang sudah diketahui dan dipelajari. Karena pengetahuan itu sangat luas. Mengisi diri setiap hari dengan ilmu pengetahuan adalah cara atau jalan mendapatkan dharma (kebenaran). Hanya dalam kondisi bersih, baik secara fisik maupun rohani, manusia siap untuk memulai belajar dan mengisi diri dengan ilmu pengetahuan. Ilmu yang dipelajari dan didapatkan hendaknya dipergunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga dalam menjalani kehidupan ini tidak dengan terbebani dan menderita. Berbekal dengan ilmu pengetahuan, manusia bisa memperbaiki diri dalam kehidupannya, termasuk pada kehidupannya yang akan datang. Kehidupan masa lalu, saat ini, dan yang akan datang merupakan siklus kehidupan manusia sebelum mencapai kesempurnaan (moksa). Ini sebuah proses yang sangat sulit. Oleh karena itu, dengan memiliki dan melaksanakan pengetahuan dharma-lah manusia terarah menuju penyatuan dengan Brahman.

Penyucian diri pada hari suci Banyupinaruh adalah langkah awal untuk bersiap menerima ajaran dharma, mencari ajaran dharma, dan melaksanakan ajaran dharma (kebenaran). Tanpa niat yang baik, tanpa dibekali perbuatan berbudi luhur, maka diri tidak akan bersih/suci dan pengetahuan dharma (kebenaran) akan sulit meresap pada diri manusia. Menjadilah manusia yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat sehingga hidup didunia ini tidak menjadi sia-sia. Sepanjang memiliki niat untuk mengisi diri, ilmu pengetahuan tersebar luas dan bisa dipelajari sepanjang masa. Manusia masih memiliki tugas banyak yang harus dipelajari, diketahui dan dilaksanakan. Manusia yang tidak bersih (suci diri), tidak mengisi diri dengan ilmu pengetahun adalah manusia tiada berguna. Isilah diri dengan pengetahuan dan persiapkan diri dengan bersih dan suci untuk menerima pengetahuan agar bersemayam dengan baik pada diri kita dan menjadikannya panduan dan sesuluh jalan hidup di dunia ini. Jangan menjadi manusia yang terlahir hanya untuk menunggu kematian. Jangan sekali-sekali menjadi manusia bodoh dan menyia-nyiakan kesempatan belajar, karena terlahir manjadi manusia adalah yang utama, menjadi makhluk yang memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan menolong dirinya sendiri.

Ada yang menarik dalam perayaan hari suci Saraswati dan Banyupinaruh pada saat sekarang ini. Umat manusia diseluruh muka bumi saat ini sedang mengalami cobaan hidup yang cukup berat bahkan sangat sulit. Diberbagai belahan negara mengalami hal yang sama, terdampak oleh wabah atau pandemic corona virus SARS-Cov-2 dengan penyakit yang ditimbulkan disebut Covid-19. Virus corona SARS-Cov-2 ini adalah virus yang belum pernah dialami oleh manusia. Seluruh dunia sedang fokus untuk menangani serangan virus yang penyebaran sangat masif ini. Ribuan manusia yang terserang virus corona dan positif Covid-19 meninggal dunia. Akibatnya, berbagai negara saat ini mengunci diri (lockdown), mengisoliasi diri untuk memutus penyebaran virus yang ditakuti oleh semua orang. Serangan Covid-19 juga sudah menyebar dan berjangkit di Indonesia, termasuk Bali. Serangan virus ini tidak memilih tempat dan waktu, hingga kini di Bali beberapa orang sudah terdampak Covid-19. Pemerintah pun serius menangani kondisi ini dengan mengeluarkan ketentuan berupa protokol kesehatan dan menjadi perhatian seluruh masyarakat. Aturan demi aturan, anjuran, himbauan dan sebagainya telah dibuat dan disampaikan oleh Pemerintah kepada masyarakat agar senantiasa waspada dan mentaati aturan demi keselematan bersama. Dengan mentaati aturan diharapkan kita bisa terhindar dari serangan virus Covid-19 ini.

BACA JUGA:  Ikuti BUMN CSR Award, PLN UID Bali Siap Raih Emas Keempat

Dengan kondisi alam yang masih didera wabah dan tidak ada satu wilayah pun di muka bumi ini terhindarkan, menjadikan kita harus mawas diri. Perayaan hari suci Saraswati dan Banyupinaruh, oleh Pemerintah senantiasa mengingatkan masyarakat untuk melakukan aktivitas ritual keagamaan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Ditekankan kepada seluruh mayarakat untuk menghindari kerumunan massa, tidak bersentuhan atau menjaga jarak, dalam beraktivitas diluar rumah harus menggunakan masker, mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas, tentu menjadikan semua ini sebagai pertimbangan kita bersama agar aktivitas ritual keagamaan bisa tetap berjalan dan protokol kesehatan juga tetap dijalankan dengan baik. Masyarakat, khususnya umat Hindu Bali tidak diperkenankan merayakan hari suci Saraswati dengan melakukan persembahyangan di Pura dengan kerumunan umat dalam jumlah besar. Diharapkan melakukan persembahyangan cukup di pemerajan rumah masing-masing. Demikian juga perayaan Banyupinaruh, tidak diharapkan umat Hindu Bali berduyun-duyun ke pusat sumber air dan pantai untuk melakukan penyucian diri. Cukup melakukan aktivitas ritual melukat di rumah saja. Ritual perayaan hari suci Saraswati dan Banyupinaruh, tidak bisa dilaksanakan bebas seperti pada perayaan-perayaan sebelum adanya Covid-19 melanda bumi ini. Apakah dengan demikian, dengan pembatasan pelaksanaan ritual ini kemudian menjadikan arti dan makna perayaan hari suci Saraswati dan Banyupinaruh berkurang? Tentu tidak.

Walaupun dalam melaksanakan ritual agama dan kitab suci menyuratkan simbolis penyucian diri dengan membersihkan diri pada tempat suci berupa pusat sumber mata air dan pantai, namun kita juga harus tetap ingat bahwa manusia diberikan kelebihan dari makhluk lainnya yaitu akal dan pikiran serta sikap bijak dalam menghadapi suatu hal (wiweka). Ini jugalah yang harus kita pergunakan, berpikir dengan berbagai pertimbangan demi keselamatan diri sendiri dari wabah penyakit dan juga bagi masyarakat lainnya. Bahwa kegiatan atau aktivitas ritual keagamaan bila dilakukan dengan melanggar aturan pemerintah terkait protokol kesehatan akan berakibat buruk bagi kita semua. Pandemic Covid-19 hingga saat ini masih belum bisa kita hindari. Angka yang terdampak virus ini semakin banyak dan penyebarannya bisa dimana saja. Tuhan dengan segala kekuasan-NYA memberikan perlindungan, kita sebagai umat manusia dengan salah satu tanggungjawab bersama-sama adalah agar terhindar dari mara bahaya. Inilah yag harus diperhatikan bersama. Hanya dengan mengikuti keinginan pribadi dalam menjalankan ajaran agama tanpa berpikir lebih panjang terhadap keselamatan umat manusia di muka bumi ini, untuk terhindar dari mara bahaya, juga merupakan kebodohan. Manusia yang bodoh seperti inilah yang ditakuti oleh kitab suci Weda. Kitab suci saja menjadi takut karenanya, apalagi kita. Karena tindakan-tindakan bodoh dengan melanggar aturan demi keselamatan bersama, akan berdampak buruk bagi siapa saja. Janganlah memaksakan kehendak dan tetap perhatikan apa yang menjadi petunjuk pemerintah dalam memberikan pengayoman kepada masyarakat dan umatnya dalam menjalankan kegiatan peribadatan. Tidak sedikitpun berkurang arti dan makna perayaan hari suci Saraswati dan Banyupinaruh, hanya karena kita melakukan dengan ritual sederhana dan dilakukan di lingkungan rumah saja. Kita tidak perlu harus beramai-ramai, berkerumun, dan berduyun-duyun datang ke Pura merayakan hari suci Saraswati dan melakukan ritual penyucian diri dengan mendatangi sumber mata air dan pantai untuk perayaan hari suci Banyupinaruh.

BACA JUGA:  Kolaborasi UNICEF Indonesia Dengan Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai Bali Peringati Hari Anak Sedunia.

Sepanjang kehidupan umat manusia, kita selalu belajar dari alam dan yang kita pelajari dari alam itu kemudian menjadi ilmu pengetahuan. Saatnya kini alam telah menunjukkan kembali kepada kita, kejadian alam maha dahsyat yang sekiranya menjadikan manusia agar mendalami lebih jauh dan menjadikan ilmu pengetahuan yang dimiliki sebagai alat untuk membersihkan diri dari kejadian-kejadian yang membahayakan umat manusia. Jangan coba-coba melawan kuasa alam, sadarlah bahwa manusia untuk menghindari mara bahaya akibat murkanya alam, manusia harus ramah dan memperlakukan alam dengan baik. Hal ini menjadikan manusia terlindungi dan terselamatkan. Jangan juga sekali-sekali menentangnya. Belajarlah dari contoh yang diberikan alam karena itu juga yang disabdakan Tuhan dalam kita suci agama-agama yang ada dimuka bumi, bahwa manusia hanya setitik debu dari kuasa alam di semesta ini. Pergunakan dengan baik ilmu pengetahuan yang dimiliki, maka kita bisa selamat dan terhindar dari mara bahaya. Alam telah memberikan kita peringatan keras dan jadikan sebagai pelajaran berharga. Pergunakan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk mendapatkan kesejahteraan tanpa harus merusak alam. Kita harus bersahabat dengan alam, sehingga kita bisa bersih diri demikian juga alam ini. Masyarakat Hindu Bali menyadari, bagaimana para leluhur terdahulu telah mewariskan tata adat istiadat kepada umat Hindu Bali serta dalam melaksanakan kegiatan ritual keagamaan agar tetap memperhatikan keseimbangan dan harmonisasi serta tanggungjawab kepada alam semesta. Kepada alamlah kita tetap menyusu dan diberikan kehidupan. Salah satunya pada kitab Manawa Dharmasastra (Manu Dharmasastra), tersurat sebagai berikut:

Adbhir gatrani suddhyanti manah satyena suddhyati, vidyatapobhyam bhutatma budhhir jnanena suddhyati.

Artinya adalah; tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran dan kejujuran (satya), jiwa manusia (atman) dibersihkan dengan ilmu pengetahuan suci dan tapa brata, kecerdasan (budhi) disucikan dengan pengetahuan yang benar (jnana).

Selain suci dalam diri, sucikan jiwa melalui tapa brata, kita juga hendaknya tetap cerdas berdasarkan pengetahuan yang benar. Semoga alam semesta ini senantiasa memberikan kesejukan dan kedamaian. Rahajeng Rahina Suci Saraswati dan Rahina Banyupinaruh.

Ida Bagus Purwa Sidemen, S.Ag., M.Si

Ditulis oleh : IB. Purwa Sidemen, S.Ag., M.Si
Dosen Program Studi Pendidikan Agama
Fakultas Pendidikan – Universitas Hindu Indonesia Denpasar