Pariwisata & Budaya

Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan di Bali dari Kemenparekraf RI

GIANYAR, lintasbali.com – Desa Wisata Taro kembali menorehkan pencapaian luar biasa mendekati penghujung tahun 2021 ini. Hal ini tampak dalam pelaksanaan Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan 2021 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, 18-19 November 2021 dalam bentuk assesment lapangan.

Hadir sebagai lead auditor adalah Dr. Frans Teguh bersama auditor AA Suryawan Wiranatha, Ph.D.

Menurut Frans Teguh dalam sambutan pembukaannya mengatakan bahwa tujuan assesment lapangan adalah untuk mengamati kondisi pisik lapangan pengelolaan desa wisata berdasar dokumen yang telah diisi melalui online.

“Sertifikasi ini merupakan rekognisi dari pemerintah terkait program-program yang telah dikembangkan oleh pengelola desa wisata terkait konsep keberlanjutan mengacu pada indikator Pengelolaan, Dampak Ekonomi, Sosial Budaya dan Keberlanjutan Lingkungan. Tahun ini ada 16 desa wisata dari seluruh Indonesia yang disertifikasi dan nantinya akan mendapatkan Sertifikat yang dikeluarkan oleh Indonesia Sustainable Tourism Council (ISTC) dan Piagam dari Kemenparekraf “, kata Frans Teguh yang juga Sekretaris ISTC.

Dr. Frans Teguh, Lead Auditor Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan Nasional

Perbekel Desa Taro, I Wayan Warka menyampaikan optimismenya terkait penilaian langsung lapangan tersebut.

“Persiapan kami cukup matang berkat dukungan seluruh tim pokdarwis, bumdes, kelian banjar, perangkat desa, TPS3R, serta tentunya seluruh lapisan masyarakat kami. Semoga hasilnya memuaskan” kata Wayan Warka.

Paparan desa wisata Taro disampaikan oleh I Wayan Gede Ardika, SE selaku ketua pengelola Desa Wisata Taro.

AA Suryawan Wiranata memfokuskan pada dampak sosial budaya dan keberlanjutan lingkungan.

“Sebagai desa tua di Bali yang memiliki warisan alam dan budaya terkait sejarah penyebaran Agama Hindu di Bali oleh Ida Maharesi Markandeya yang ditandai adanya Pura Agung Gunung Raung dan juga satwa langka yang disakralkan yaitu Lembu Putih maka kami auditor memastikan desa wisata memiliki program konkrit untuk pelestariannya secara konkrit bukan hanya sebatas wacana namun ada bukti tertulis menyangkut aturan, penerapan dan bukti terkait seperti prasasti, perarem, awig-awig dan sejenisnya” kata Agung Suryawan.

BACA JUGA:  FRii Bali Echo Beach Berhasil Raih Sertifikasi CHSE dari Kemenparekraf RI

Ditambahkannya juga terkait rencana aksi antisipasi kerusakan alam, upaya mengantisipasi bencana alam seperti tanah longsor, dan sejenisnya.

Hadir pada kegiatan tersebut diantaranya Kadispar Gianyar, Kadis DLH Gianyar, Kadis PMD Gianyar, Camat Tegalalang, Indonesia Power, Poltekpar Bali, Forkom Dewi Bali, MASATA Bali, PUPAR UNUD, seluruh Kelian Banjar Dinas, serta lainnya.

Sebelumnya desa wiata yang terletak di Desa Taro Kecamatan Tegalalang Kabupaten Gianyar Provinsi Bali ini telah berhasil meraih banyak penghargaan, di antaranya Penghargaan Kalpataru, Juara Harapan I Lomba Desa Wisata Kemendes, Juara II Lomba Desa Wisata Nasional Tri Sakti Award, Juara I Lomba Desa Wisata Nasional Bakti BCA Award serta lainnya. (SW)