Pendidikan

Siswa Diterima SMAN Bali Mandara Penuhi 21 Indikator Kemiskinan

DENPASAR, lintasbali.com – Anak-anak Bali yang mengalami kemiskinan absolut menjadi prioritas untuk diterima di SMAN Bali Mandara. Setiap siswa dinyatakan lolos jika memenuhi kriteria 21 indikator kemiskinan.

Hal ini disampaikan Wakil Kepala Sekolah SMAN/SMK Bali Mandara 2011-2017, yaitu I Nengah Sumerta dalam diskusi publik “Mau Dibawa Ke mana Pendidikan Bali?” di Rumah Kebangsaan dan Kebhinekaan Satyam Eva Jayate, Denpasar, Minggu, 29 Mei 2022.

“Kami punya 21 indikator kemiskinan, kita dicari datanya tidak di rumah yang bersangkutan saja. Kita komparasikan ke tetangga, kepala desa, kelian. Contoh, apakah nasinya dicampur dengan bahan lain, lauk apa saja, berapa kali makan sehari. Lantai tanahnya apa. Langit atap berupa ilalang atau apa, lantai tanah atau tidak. Apa sumber airnya. Listrik dari mana, apakah sendiri atau tetangga. Tanah tempat tinggal apakah tanah ayahan desa atau tanah tetangga,” kata Nengah Sumerta.

Ida Ayu Kade Prahastini, Alumni SMAN Bali Mandara yang berhasil raih Sarjana

Sebagai catatan, 21 Indikator Kemiskinan merupakan salah cara untuk mengukur tingkat kemiskinan calon siswa. Diantaranya, luas pekarangan tanah, lantai tanah, luas lantai kamar, jenis lantai rumah, jenis dinding rumah, jenis dinding, jenis plafon rumah, fasilitas mandi, sumber penerangan, dan air yang dikonsumsi.

Indikator tersebut, kata Sumerta merupakan, syarat terpenuhinya kemiskinan calon siswa untuk diterima di SMAN Bali Mandara.

Ia menceritakan, dengan kapasitas 150 orang, tidak semua anak menjadi siswa sekolah di Bali Utara ini. “Yang miskin absolut diterima 150 orang, namun yang datang 600 orang sampai 1.200 orang,” ujarnya.

Ia membandingkan sekolah reguler dan SMAN Bali Mandara yang menerima siswa miskin. Input dan output akan berbeda karena sistem pendidikannya berbeda.

“Anak-anak miskin itu bisa masuk SMA reguler, namun setelah itu tamat di mana orangnya sekarang. Nasibnya setelah lulus SMA akan tetap bekerja seperti level orang tuanya,” urainya.

Ia menambahkan bahwa harapan dan mimpi di SMA dan SMK Bali Mandara adalah tranformasi agar berasal orangtuanya yang miskin namun anak-anaknya tidak kembali miskin.

“SMAN Bali Mandara sudah bisa membuktikannya. Artinya, jika keadaannya tidak biasa, jangan melakukan kebijakan yang biasa saja namun kebijakan yang harus luar biasa yang berpihak pada masyarakat yang khusus pada anak-anak seperti itu. Tidak akan survive juga mereka diperlakukan biasa-biasa saja,” jelas Sumerta. (LB)