DENPASAR, lintasbali.com – Kinerja penjualan eceran di Provinsi Bali tetap menunjukkan tren yang positif. Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Mei 2026 yang tercatat sebesar 125,7, tetap berada pada level optimis (indeks >100).
Dibandingkan bulan sebelumnya, IPR meningkat sebesar 0,3% (month-to-month/mtm), mencerminkan masih kuatnya aktivitas konsumsi masyarakat.
Peningkatan kinerja penjualan eceran terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan pada kategori barang lainnya yang meningkat 4,1% (mtm), diikuti kategori sandang sebesar 3,7% (mtm), serta barang budaya dan rekreasi sebesar 1,9% (mtm).
Perkembangan tersebut sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat pada Mei 2026 yang didukung oleh meningkatnya aktivitas pariwisata, momentum libur panjang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), serta penguatan konsumsi rumah tangga yang mendorong permintaan di berbagai sektor ritel.
Memasuki Juni 2026, kinerja penjualan eceran diprakirakan tetap kuat. Hal ini tercermin dari IPR Juni 2026 yang diproyeksikan mencapai 126,3, atau tumbuh 0,4% (mtm).
Peningkatan tersebut didorong oleh prakiraan meningkatnya penjualan pada kategori barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, serta barang lainnya.
Prospek positif tersebut didukung oleh tetap kuatnya permintaan masyarakat selama momentum Hari Raya Galungan dan Kuningan yang berlangsung pada Juni 2026.
Dari sisi harga, pelaku usaha memperkirakan tekanan harga akan meningkat dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Hal tersebut tercermin pada Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) yang masing-masing mencapai 188 untuk Agustus 2026 dan 200 untuk November 2026.
Meski demikian, kondisi inflasi di Bali masih tetap terkendali. Pada Juni 2026, inflasi Provinsi Bali tercatat sebesar 3,27% (year-on-year/yoy), masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1%.
Optimisme pelaku usaha terhadap prospek penjualan juga tercermin pada Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). Untuk tiga bulan mendatang, yaitu Agustus 2026, IEP meningkat menjadi 190,0 dari 172,0 pada Juli 2026.
Sementara itu, IEP enam bulan mendatang, yaitu November 2026, tetap berada pada level 190,0, sama dengan ekspektasi Oktober 2026. Seluruh indikator tersebut berada pada zona optimis (IEP >100), yang menunjukkan keyakinan pelaku usaha terhadap prospek penjualan ritel Bali tetap terjaga.
Optimisme tersebut juga didukung oleh kinerja intermediasi perbankan. Berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT), kredit pada Lapangan Usaha (LU) Perdagangan hingga Mei 2026 masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 1,95% (yoy).
Kondisi ini menunjukkan dukungan sektor perbankan terhadap aktivitas perdagangan dan dunia usaha di Bali tetap berlangsung dengan baik.
Untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung momentum pertumbuhan, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari bauran kebijakan Bank Indonesia yang diarahkan untuk menjaga stabilitas harga (pro stability) sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi (pro growth).
Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Bali akan terus memperkuat implementasi strategi 4K, yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Melalui sinergi yang erat dengan seluruh pemangku kepentingan, strategi tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi tetap rendah dan terkendali, melindungi daya beli masyarakat, memperkuat optimisme pelaku usaha, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. (Rls)





