DENPASAR, lintasbali.com – Industri perhotelan di Bali memasuki fase krusial pada tiga bulan pertama tahun ini. Periode Januari hingga Maret atau kuartal pertama (Q1) menjadi fondasi penting dalam menentukan performa bisnis hotel sepanjang tahun.
Hal ini disampaikan oleh Sugeng Purnomo, Multi-property Director of Sales and Marketing Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali dan Fairfield by Marriott Bali Legian saat ditemui di Denpasar pada Jumat, 23 Januari 2026.
Menurut Sugeng, Q1 merupakan masa yang menuntut kecepatan, kecermatan, dan strategi yang tepat. Bukan sekadar bekerja keras, namun harus bekerja secara smart dan “grecep” agar target anggaran dapat tercapai sejak awal tahun.
“Q1 ini sangat menentukan. Kalau di tiga bulan pertama kita bisa aman secara pencapaian budget, maka bulan-bulan berikutnya akan terasa lebih confident. Tapi bukan berarti bisa lengah, karena monitoring pergerakan booking harus terus dilakukan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa karakter pasar pariwisata Bali saat ini sangat dinamis, dengan fluktuasi permintaan yang bisa naik dan turun dalam waktu singkat. Kondisi tersebut menuntut pelaku industri perhotelan untuk memiliki strategi jangka panjang yang matang, bukan hanya mengandalkan pendekatan last minute.
“Market sekarang cepat berubah. Kalau hanya reaktif dan last minute terus, itu berisiko. Kita harus punya strategi berkelanjutan dan fleksibel agar bisa beradaptasi dengan perubahan tren dan perilaku wisatawan,” jelasnya.
Meski menghadapi tantangan tersebut, Sugeng tetap optimistis terhadap kinerja pariwisata Bali sepanjang tahun ini. Optimisme tersebut diperkuat dengan pencapaian Bali yang kembali menorehkan prestasi di kancah global sebagai Best Destination in the World versi TripAdvisor.
“Nama Bali sangat harum di mata dunia. Dunia cinta Bali. Sebagai orang yang tinggal dan bekerja di Bali, saya sangat bangga dengan pencapaian ini. Selamat untuk kita semua,” ungkapnya.
Dengan pengakuan internasional tersebut, Sugeng menilai kepercayaan wisatawan global terhadap Bali semakin kuat. Hal ini menjadi modal besar bagi industri perhotelan untuk terus menjaga kualitas layanan, inovasi produk, serta kolaborasi antar pelaku pariwisata.
“Dengan semangat positif dan strategi yang tepat sejak Q1, kami sangat confident menghadapi tahun ini. Bali tourism tetap menjanjikan, dan kami siap menjalaninya dengan penuh semangat,” pungkasnya. (LB)




