News Pariwisata & Budaya Seputar Bali

TRI HITA KARANA; Upaya untuk Keberlangsungan

Bali diakui sebagai daerah yang memiliki budaya, tradisi dan seni sungguh luar biasa serta didukung beragam keindahan alam membuat industri Pariwisata menjadi semakin kuat posisimya di tengah persaingan destinasi dunia.

Ketut Swabawa, Director Swaha Hospitality dan Wakil Ketua IHGMA Bali mengatakan bahwa ada hubungan erat antara Pariwisata dengan konsep Tri Hita Karana dewasa ini. Terlebih kondisi Pariwisata di Bali saat ini. Ketut Swabawa mengungkapkan bahwa industri ini muncul karena peran para penglingsir kita yaitu para leluhur yang telah menciptakan adat dan budaya yang sangat adiluhung sejak jaman dahulu kala di jaman kerajaan dulu. Hal tersebut memunculkan kehidupan berkesenian di segala bidang seperti seni mejejahitan, pembentukan simbol-simbol (seni kriya dan rupa), pembuatan bangunan (seni undagin/ arsitektur), seni tari, seni suara dan musik bahkan seni kreasi seperti dalam berkegiatan seperti memasak, melukis dan lainnya.

BACA JUGA:  Ciptakan Clean Government, AMERTA Gandeng KPK, Kejaksaan dan Kepolisian

Nah pada masa penjajahan dulu para expatriate sangat menyukai perilaku masyarakat kita yang berbudaya dalam tradisi yang unik seperti itu. Akhirnya informasi menyebar ke negara asal para penjajah tersebut. Artinya disini bahwa jika bicara Pariwisata maka jangan sampai lepas dari adat, budaya dan seni.

Disinggung masalah kaitan antara industry pariwisata dengan alam, Ketut Swabawa menjelaskan bahwa Budaya yang dimaksud sifatnya luas. Budaya termasuk juga kegiatan asli yang dimiliki masyarakat Bali di jaman dulu. Sesuai letak geografis lahan pertanian dan perkebunan di Bali sangat luas, maka penduduk awalnya lebih banyak bermata pencaharian sebagai petani baik di sawah maupun perkebunan. Dan ada sebagian yang menjadi nelayan terutama di daerah pesisir pantai.

Nah sawah-sawah itu butuh air untuk menghidupi tanaman maka penglingsir terdahulu menciptakan sistem irigasi air kala itu yang namanya Subak. Subak itu diatur dalam adat; siapa pengurus dan anggotanya, bagaimana sistem pembagian airnya, bagaimana pemeliharaan salurannya dan sebagainya. Artinya sejak dahulu masyarakat sudah mengenal sistem tata kelola atau sistem manajemen istilah saat ini. Maka bisa amati jika saja lahan yang begitu luas tidak dikelola dengan baik saat itu, maka saat ini tidak dapat menikmati keindahan terasering sawah, sungai yang eksotis berdinding tebing bebatuan dan pepohonan yang tropis.

BACA JUGA:  Kodam IX/Udayana Gelar Pelatihan Petugas Swab Covid-19 Secara Virtual

Ketut Swabawa lebih lanjut menjelaskan usaha-usaha apa saja yang diperlukan untuk menjaga semua itu. Menurutnya selalu mengedepankan upaya-upaya persuasif dan holistik dalam membahas kiat menjaga keberlangsungan industri pariwisata khususnya di Bali yang sangat erat kaitannya dg adat budaya serta secara umum dimana pariwisata dijadikan sektor unggulan bahkan peringkat kedua penyumbang devisa negara.

Strategi paling ampuh untuk menjaga Bali ini dan agar sustain dalam jangka waktu yang panjang adalah konsep Tri Hita Karana yang adiluhung kita miliki di Bali. Masyarakat Bali harus mampu dan terus menerus mengupayakan konsep ini ke ranah universal karena pariwisata adalah tindakan global yang berkaitan dengan dunia internasional.

Maksudnya adalah bagaimana kita mampu membahasakan bahwa Tri Hita Karana tidak hanya berbicara tentang agama atau keyakinan tertentu saja, sifatnya universal mengandung hubungan yang harmonis antara manusia – sang pencipta – alam lingkungan. Ketiga elemen ini menjadi seimbang karena manusia menjaga hubungan yang baik dengan sang pencipta dengan cara menjalankan ibadah keagamaan masing-masing termasuk adalah merawat atau menjaga kesucian tempat ibadah dan menjalankan ajaran agamanya dengan benar.

BACA JUGA:  Drs. I Made Rentin, AP.M.Si, Jabat Ketua Kwartir Daerah Pramuka Bali.

Sesama manusia juga saling menghormati sehingga hubungan menjadi harmonis. Dan manusia juga memperhatikan serta melestarikan alam untuk keseimbangan ekosistem, sehingga kita yang khususnya di bisnis pariwisata dapat menunjukkan keindahan alam yang kita miliki kepada para wisatawan.

Pengimplementasian konsep Tri Hita Karana tidak dapat dipaksakan kepada orang lain untuk mengikuti dan menjalankannya. Orang Bali itu sejatinya taat pada aturan. Contoh begitu ada suara kulkul dengan irama tertentu maka masyarakat melaksanakan kegiatan atau menghadirinya sesuai maksud dari suara kulkul tersebut. Itu dengan kesadaran, bukan menunggu atau sengaja pura- pura tidak tahu.

Sama halnya dengan konsep Tri Hita Karana ini, begitu kita orang Bali mampu menerapkannya setiap saat di segala bentuk kegiatan maka orang lain yang datang ke Bali akan menghormati itu sebagai bagian dari budaya di Bali. Keunikan dan kemuliaan konsep ini akan mampu mempengaruhi orang lain untuk membiasakan dirinya utk mengikuti hal yang sama dilakukan oleh setiap orang Bali. Jadi kuncinya adalah orang Bali sendiri yang harus menunjukkan bahwa ini budaya kita, bukan karena dipaksa untuk melakukan. Karena budaya inilah kita menjadi unik sehingga banyak orang khususnya turis domestik dan internasional datang untuk menikmati suasana Bali.

Pengalaman unik yang didapatkan oleh Ketut Swabawa mengenai konsep Tri Hita Karana yaitu bertemu dengan Kombes Pol Pandra Arsyad yaitu Kabid Humas Polda Lampung. Begitu Ketut Swabawa menyebut berasal dari Bali beliau langsung mengatakan “saya bangga pada Bali yang punya konsep ajaran Tri Hita Karana dan juga Tri Kaya Parisudha. Itu ajaran luar biasa dalam menjaga keseimbangan kehidupan dunia” demikian kata beliau yang pada saat kejadian bom Bali 2002 bertugas untuk menangani media masa luar negeri untuk urusan merespon pemberitaannya. Ini hal luar biasa sekali bahwa orang di luar Bali menghargai konsep ini sebagai alat yang ampuh untuk melestarikan alam, budaya dan tatanan kehidupan masyarakat.

“Jaga Bali bersama-sama, bagi yang berasal dari luar Bali agar jangan acuh dan hanya cari untung di Bali. Jika mereka tidak paham dengan budaya kita sehingga belum mampu maksimal menjalankannya, ya minimal hormatilah budaya di Bali. Karena yang membedakan Bali ini dengan yg lainnya adalah pada Taksu (spirit) yang dimiliki karena keseimbangan alam – manusia – sang pencipta”, pesan Ketut Swabawa kepada pelaku pariwisata di Bali. (Red/APW/LBC)