SANUR, lintasbali.com — Himpunan Perupa Payangan menghadirkan pameran seni rupa bertajuk “UDHAR BANDA KARMA” di Santrian Art Gallery, Sanur, Bali. Pameran ini menjadi ruang bagi 18 perupa Payangan untuk mengeksplorasi hubungan antara tradisi, kreativitas, dan perkembangan seni rupa kontemporer.
Pameran “UDHAR BANDA KARMA” merupakan bagian dari perjalanan kreatif Himpunan Perupa Payangan setelah sebelumnya menggelar pameran di kawasan Monkey Forest, Ubud, pada Mei 2026.
Jika pameran sebelumnya mengangkat gagasan “menyalakan Tri Sakti lewat filosofi Bayu-Idep-Karma” yang dimaknai sebagai energi, pikiran, dan kreativitas, pameran di Sanur ini bergerak ke arah yang lebih terbuka. Para perupa membawa pengalaman artistik yang tumbuh dari lingkungan tradisi Payangan untuk berdialog dengan ruang seni yang lebih luas.
Perpindahan dari Payangan ke Sanur tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan lokasi. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses kreatif untuk memperluas perspektif dan membuka kemungkinan baru dalam praktik seni rupa.
Kurator pameran, Dr. I Nyoman Suardina, menjelaskan gagasan “UDHAR BANDA KARMA” melalui tiga kata yang menjadi dasar konsep pameran.
“Udhar” dimaknai sebagai mengurai atau melepaskan ikatan, “banda” sebagai belenggu atau kekangan, sementara “karma” berkaitan dengan perbuatan atau hasil dari tindakan.
Dalam konteks seni rupa, konsep tersebut berbicara mengenai hubungan para perupa dengan tradisi yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan artistik mereka.
Para perupa Payangan dikenal tumbuh dalam ekosistem seni rupa Bali yang kuat dengan tradisi. Namun, tradisi dalam pameran ini tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang harus diterima secara statis.
Sebaliknya, tradisi menjadi titik berangkat untuk melakukan eksplorasi, reinterpretasi, dan pencarian bahasa visual baru.
Gagasan tersebut juga bersinggungan dengan pemikiran filsuf dan kritikus budaya Italia, Giorgio Agamben, mengenai posisi seorang seniman terhadap zamannya. Dalam pemikirannya tentang kontemporer, Agamben antara lain membahas pentingnya mengambil jarak dari zaman untuk dapat melihat dan membacanya secara kritis.
Bagi para perupa Payangan, mengambil jarak bukan berarti meninggalkan akar tradisi seni rupa Bali. Proses tersebut justru menjadi cara untuk memberikan ruang baru bagi tradisi agar dapat berkembang sesuai pengalaman dan gagasan masing-masing seniman.
Karya-karya yang ditampilkan dalam “UDHAR BANDA KARMA” memperlihatkan beragam kecenderungan visual. Pengunjung tidak hanya menemukan karya yang mempertahankan karakter seni lukis tradisional Bali, tetapi juga karya-karya yang mempertemukan unsur tradisi dengan pendekatan modern hingga abstraksi.
Pada kelompok pertama, sejumlah seniman masih mempertahankan kekuatan visual seni rupa tradisional Bali melalui detail, garis, figur, serta tema yang berkaitan dengan kehidupan budaya dan spiritual.
Namun, pendekatan tersebut tidak selalu hadir sebagai pengulangan. Tradisi dapat menjadi pilihan artistik untuk mempertahankan ketekunan teknik, presisi, serta kedalaman pengalaman spiritual.
Pada kelompok lainnya, karya-karya menunjukkan pertemuan antara tradisi dan modernitas. Figur pewayangan, lanskap Bali, maupun simbol-simbol budaya mulai ditempatkan dalam komposisi yang lebih terbuka dengan eksplorasi perspektif, warna, ruang, dan sapuan kuas.
Sementara itu, sejumlah karya bergerak menuju abstraksi. Bentuk figuratif mengalami penyederhanaan atau bahkan dilepaskan, sehingga warna, garis, tekstur, ritme, dan energi visual menjadi unsur utama.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa eksplorasi terhadap bentuk tidak selalu berarti memutus hubungan dengan akar budaya. Bagi para seniman, pengalaman budaya dapat diterjemahkan melalui berbagai bahasa visual yang lebih personal.
Eksplorasi dalam pameran ini tidak berhenti pada karya dua dimensi. Seni patung juga menjadi bagian penting dari presentasi Himpunan Perupa Payangan.
Material seperti kayu dan batu diolah dengan berbagai pendekatan. Beberapa karya masih memperlihatkan jejak figuratif dan anatomi yang memiliki hubungan dengan tradisi, tetapi dikembangkan dengan bentuk yang lebih dinamis.
Karya lainnya mengeksplorasi material secara lebih bebas melalui permainan volume, ruang, tekstur, pemotongan, dan pelubangan.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana material dapat menjadi bagian dari proses pencarian bentuk sekaligus sarana untuk menyampaikan gagasan tentang ruang, gerak, dan pengalaman manusia.
Pameran “UDHAR BANDA KARMA” memperlihatkan keberagaman proses kreatif dalam tubuh Himpunan Perupa Payangan. Karya-karya yang dihadirkan tidak terikat pada satu gaya, tetapi bergerak dalam spektrum yang mencakup tradisi, perpaduan tradisi dan modernitas, ekspresi personal, hingga abstraksi.
Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa identitas seni rupa Payangan dapat terus berkembang tanpa harus kehilangan akar budayanya.
Tradisi menjadi fondasi, sementara kreativitas membuka kemungkinan baru.
Melalui pameran ini, Himpunan Perupa Payangan ingin menunjukkan bahwa perjalanan seni rupa Bali tidak berhenti pada upaya mempertahankan bentuk-bentuk masa lalu. Tradisi juga dapat terus dibaca, ditafsirkan, dan dikembangkan melalui pengalaman seniman pada masa kini.
“UDHAR BANDA KARMA” dengan demikian menjadi ruang pertemuan antara akar budaya, pengalaman personal, dan keberanian bereksperimen.
Pameran ini menghadirkan karya dari 18 perupa, yakni I Made “Dollar” Astawa, I Made Suparta, I Nyoman Suandi, Aku Ketut Arka, I Gede Susilayasa (De Sila), I Nyoman Suardina, I Ketut Sunama, I Wayan Badra, I Gusti Putu Dyatmika, I Made Ariasa, I Made Jongko, Ngakan Ketut Suarbawa, Ngakan Made Sudarsana, I Komang Sudiarta, I Made Jendra, I Wayan Putrayasa, I Nyoman Sumendra (Rai Sumendra), dan I Wayan Merta.
Melalui karya-karya tersebut, Himpunan Perupa Payangan membawa perjalanan seni dari pedalaman Payangan menuju ruang seni di Sanur, sekaligus membuka dialog baru tentang posisi tradisi Bali di tengah perkembangan seni rupa masa kini. (LB)





