Business

OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

JAKARTA, lintasbali.com — Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 30 September 2026 menilai stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter global.

Pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan 2025, meskipun proyeksi tersebut lebih baik dari perkiraan sebelumnya. Perbaikan outlook tersebut antara lain didukung oleh peningkatan investasi dan aktivitas perdagangan yang berkaitan dengan pengembangan teknologi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI).

Namun demikian, keberlanjutan momentum pertumbuhan ekonomi global masih menghadapi sejumlah tantangan. Eskalasi konflik geopolitik berpotensi kembali mendorong kenaikan harga minyak dan memicu tekanan inflasi global. Di sisi lain, fenomena very strong El Niño berpotensi meningkatkan harga pangan dan komoditas pertanian, sehingga menambah tekanan terhadap inflasi.

Kenaikan inflasi tersebut mendorong kecenderungan kebijakan suku bunga global untuk bertahan pada level tinggi dalam periode yang lebih lama (higher for longer). Kondisi tersebut tercermin dari perkembangan suku bunga kebijakan di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Pasar juga masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada akhir 2026 yang berpotensi berlanjut hingga 2027.

Tekanan terhadap pasar obligasi global turut meningkat. Imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara maju telah mencapai level tinggi dalam beberapa dekade terakhir. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan Eropa kembali berada pada level sebelum 2008, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jepang mencapai level sebelum 1997.

Kenaikan imbal hasil tersebut antara lain dipengaruhi oleh tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah serta meningkatnya penerbitan obligasi jangka panjang oleh perusahaan hyperscaler untuk mendukung investasi yang berkaitan dengan pengembangan AI.

Ekonomi Domestik Tetap Stabil

Di dalam negeri, berbagai indikator terkini menunjukkan perekonomian Indonesia relatif stabil. Inflasi masih terjaga sesuai sasaran Pemerintah di tengah meningkatnya tekanan inflasi global. Kondisi inflasi yang terkendali turut mendukung daya beli masyarakat, sehingga permintaan domestik dan tingkat konsumsi tetap kuat dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Optimisme terhadap perekonomian Indonesia juga tercermin dari peningkatan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk 2026 sebesar 0,5 persen. Peningkatan proyeksi tersebut mencerminkan kepercayaan terhadap daya tahan perekonomian Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.

Perkembangan positif tersebut turut didukung oleh sektor keuangan yang terus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Stabilitas sektor keuangan juga tetap terjaga dengan didukung fundamental industri jasa keuangan yang solid.

Dengan kondisi tersebut, sektor jasa keuangan berada dalam posisi yang relatif kuat untuk terus menjalankan fungsi intermediasi dan mendukung aktivitas perekonomian nasional di tengah dinamika serta tekanan ekonomi global yang masih berlangsung. (Rls)

Post ADS 1