Featured

Divergent Mind: Pameran Tunggal I Made Romi Sukadana

DENPASAR, lintasbali.com – Dalam diskursus seni rupa modern dan kontemporer, identitas artistik kerap dipahami sebagai sesuatu yang stabil, mapan, dan dapat dipetakan secara periodik. Seorang seniman sering dianggap telah mencapai “kematangan” ketika gaya visualnya menetap, konsisten, dan mudah dikenali dalam garis perkembangan yang linier.

Cara pandang ini tentu tidak sepenuhnya keliru, karena memudahkan pembacaan, klasifikasi, serta penulisan historiografi seni. Namun demikian, pemahaman semacam ini juga berisiko menyederhanakan kompleksitas proses kreatif seniman yang pada dasarnya bersifat dinamis, tidak linier, dan sarat ketidakpastian.

Pameran Divergent Mind justru berangkat dari pembacaan yang berbeda atas konsep identitas artistik tersebut. Alih-alih menempatkan identitas sebagai gaya visual yang ajeg dan stabil, pameran ini memosisikan identitas sebagai bagian dari ekosistem alam pikir seniman yang spesifik, otonom, dan terus bergejolak.

Identitas dipahami sebagai sesuatu yang senantiasa berada dalam perubahan, lompatan, serta pergeseran nilai-nilai yang justru menjadi inti dari praktik artistik I Made Romi Sukadana.

Dalam psikologi kreativitas, konsep divergent thinking merujuk pada kemampuan mental untuk menghasilkan beragam kemungkinan jawaban, berpindah pendekatan, serta menolak satu solusi tunggal sebagai kebenaran final.

Istilah ini diperkenalkan oleh J. P. Guilford dalam pidato presidensialnya di American Psychological Association pada tahun 1950, sebagai kritik terhadap dominasi convergent thinking yang menekankan efisiensi logis serta dikotomi benar–salah.

Guilford merumuskan empat karakter utama berpikir divergen, yaitu fluency (kelimpahan ide), flexibility (kelenturan berpindah kategori dan pendekatan), originality (keunikan gagasan), dan elaboration (kemampuan mengembangkan ide secara detail dan berlapis).

Dalam konteks seni rupa, berpikir divergen tidak semata hadir sebagai strategi intelektual, melainkan sebagai pengalaman tubuh dan kesadaran. Mihaly Csikszentmihalyi menyebut kondisi ini sebagai flow, yakni keadaan ketika individu sepenuhnya larut dalam aktivitas kreatif dan bertindak berdasarkan intuisi yang terlatih.

BACA JUGA:  Ramalan Percintaan Libra, Scorpio dan Sagitarius hari Selasa, 1 April 2025

Pada titik ini, proses kreatif tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh perencanaan rasional, melainkan oleh dialog spontan antara pengalaman, intuisi, dan medium.dalam hal ini, lukisan itu sendiri.

Pada praktik artistik I Made Romi Sukadana, divergent thinking berkembang lebih jauh menjadi apa yang dapat disebut sebagai divergent mind. Istilah ini tidak hanya merujuk pada kecenderungan menghasilkan variasi visual, tetapi juga mencakup struktur mental dan sikap artistik yang membentuk keseluruhan praktik berkaryanya.

Perbedaan gaya dalam karya-karyanya tidak mudah dibaca sebagai fase-fase kronologis yang rapi, sehingga tidak dapat dirumuskan dalam periodisasi yang jelas. Ia bergerak secara non-linier, melompat dari satu pendekatan ke pendekatan lain, seolah menolak logika perkembangan progresif yang lazim digunakan dalam historiografi seni modern.

Jika ditinjau melalui kerangka Pierre Bourdieu, praktik Made Romi dapat dibaca sebagai tindakan seorang agen kreatif yang terus merundingkan posisinya di dalam medan seni. Alih-alih tunduk pada habitus yang menuntut konsistensi gaya demi legitimasi sebagai seniman yang “beridentitas”, ia justru memilih strategi diferensiasi yang cair.

Setiap karya menjadi negosiasi baru dengan dirinya sendiri, bukan pengulangan dari formula yang telah mapan. Dalam pengertian ini, ia secara sadar menolak cara berpikir tentang kemapanan sebagai tujuan akhir.

Kecenderungan tematik dan visual yang berubah-ubah dalam karya Made Romi kerap disalahpahami sebagai ketiadaan identitas. Pembacaan semacam ini berangkat dari asumsi bahwa identitas harus selalu terwujud dalam satu rupa visual tertentu, atau setidaknya dapat dirunut melalui periodisasi yang jelas.

Stuart Hall menawarkan pemahaman alternatif dengan melihat identitas sebagai sesuatu yang tidak tetap, melainkan senantiasa “menjadi” melalui proses representasi. Dalam pandangan ini, identitas bukanlah esensi yang selesai, melainkan konstruksi yang terus bergerak dan dinegosiasikan.

BACA JUGA:  Tujuh Keajaiban dari Tujuh Pelukis di Seminyak Village

Dengan demikian, penolakan Made Romi terhadap identitas tunggal justru dapat dibaca sebagai sikap kritis terhadap pemahaman identitas yang membeku. Identitas artistiknya tidak berhenti pada gaya atau tema tertentu, melainkan hadir sebagai pencarian yang terus bergulir di dalam proses melukis itu sendiri.

Melukis menjadi medan uji, ruang berpikir, sekaligus arena eksperimentasi yang terbuka sebuah praktik reflektif yang tidak pernah benar-benar selesai.
Dalam konteks ini, melukis tidak lagi dipahami semata sebagai produksi objek visual, melainkan sebagai modus berpikir.

Gagasan ini sejalan dengan pemikiran John Dewey tentang seni sebagai pengalaman (art as experience), di mana nilai seni terletak pada proses interaksi antara subjek, medium, dan dunia di sekitarnya.

Setiap kanvas dalam pameran ini dapat dibaca sebagai rekaman spesifik dari proses berpikir tersebut, sebagai jejak dialog antara intuisi, pengalaman personal, ingatan visual, serta respons terhadap konteks sosial dan batin.
Pameran Divergent Mind mengajak pemirsa untuk menggeser cara membaca karya seni.

Alih-alih mencari keseragaman atau “ciri khas” tunggal, pameran ini mendorong pemahaman atas perbedaan, ketegangan, bahkan kontradiksi antar karya sebagai bagian integral dari pernyataan artistik. Dalam perspektif ini, perbedaan gaya bukanlah kegagalan koherensi, melainkan manifestasi dari kebebasan berpikir yang disengaja.

Kesadaran Made Romi akan dirinya sebagai otoritas atas karya-karyanya menjadi fondasi penting dalam praktik ini. Ia menempatkan dirinya sebagai subjek yang bertanggung jawab penuh atas pilihan estetik dan konseptualnya.

Sikap ini mengingatkan pada gagasan otonomi artistik dalam seni modern, namun dengan kesadaran kontemporer bahwa otonomi tersebut senantiasa dinegosiasikan dalam relasi sosial dan kultural yang kompleks.

Divergent Mind dapat dibaca sebagai pernyataan sikap estetik I Made Romi Sukadana: bahwa dalam seni rupa, perubahan, ketidakpastian, dan keberanian untuk menyimpang bukanlah kelemahan, melainkan sumber vitalitas kreatif. Dalam praktiknya, berpikir dan melukis menyatu sebagai proses yang terus bergerak sebuah perjalanan yang nilainya justru terletak pada keberlanjutan pencarian itu sendiri. (LB)

BACA JUGA:  Ramalan Percintaan Aries, Taurus dan Gemini hari Selasa, 1 April 2025
Post ADS 1