Business

Sektor Jasa Keuangan Tetap Tangguh di Tengah Gejolak Global dan Risiko Stagflasi

JAKARTA, lintasbali.com – Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diselenggarakan pada Kamis, 30 April 2026 menilai bahwa stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) Indonesia tetap terjaga, meskipun dihadapkan pada dinamika dan ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut.

Perekonomian global saat ini dibayangi oleh ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya mereda. Meskipun telah tercapai kesepakatan gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada 8 April 2026, penutupan Selat Hormuz masih berlangsung akibat blokade yang dipertahankan oleh pihak-pihak terkait.

Kondisi ini menyebabkan gangguan distribusi energi global terus berlanjut, sehingga harga minyak dunia tetap berfluktuasi dan bertahan pada level tinggi.

Dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2026 bertajuk “Global Economy in the Shadow of War”, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen pada 2026.

Selain itu, IMF juga menilai risiko stagflasi meningkat, dipicu oleh fragmentasi geopolitik, tingginya tekanan utang, serta gangguan rantai pasok global yang berkepanjangan.

Tekanan inflasi global pun kembali meningkat, mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter di sejumlah negara maju.

Di Amerika Serikat, perekonomian menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 diperkirakan menurun, dengan tekanan inflasi yang kembali meningkat, terutama akibat kenaikan harga barang dan energi.

Sentimen konsumen juga mengalami pelemahan, meskipun pasar tenaga kerja masih relatif kuat. Dalam situasi tersebut, The Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada akhir April 2026.

Sementara itu, perekonomian Tiongkok mencatat pertumbuhan sebesar 5,0 persen pada kuartal I-2026, sesuai dengan target pemerintah. Pertumbuhan ini ditopang oleh kinerja ekspor dan sektor manufaktur.

Namun demikian, momentum pertumbuhan mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan, tercermin dari perlambatan signifikan ekspor pada Maret 2026 serta belum pulihnya permintaan domestik secara optimal.

BACA JUGA:  243.768 Pelanggan di Bali Nikmati Stimulus Diskon Tarif Listrik

Di dalam negeri, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang solid dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen. Pertumbuhan ini didukung oleh konsumsi rumah tangga yang kuat serta peningkatan belanja pemerintah.

Dari sisi permintaan, Indeks Keyakinan Konsumen masih berada pada zona optimis meskipun mengalami moderasi. Pertumbuhan penjualan ritel tercatat sebesar 2,4 persen (year-on-year), sementara penjualan kendaraan bermotor mengalami kontraksi secara tahunan.

Dari sisi ketahanan eksternal, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Cadangan devisa pada Maret 2026 tercatat sebesar USD148,2 miliar, sementara neraca perdagangan masih mencatatkan surplus sebesar USD1,2 miliar.

Secara keseluruhan, di tengah tekanan dan ketidakpastian global yang meningkat, sektor jasa keuangan Indonesia tetap menunjukkan resiliensi yang kuat dan berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. (Rls)

Post ADS 1